Home / Reportase

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:20 WIB

Rapuh di Tengah Kekayaan, Potret Ketimpangan Fiskal Jambi

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM — Pemetaan fiskal terhadap sebelas kabupaten dan kota di Provinsi Jambi mengungkap wajah ganda keuangan daerah. Di satu sisi terdapat wilayah dengan anggaran besar berkat kekayaan alam, di sisi lain kesenjangan yang lebar dan ketergantungan tinggi pada pendanaan pusat menjadi tantangan serius.

Berdasarkan data APBD 2026 dan realisasi Transfer ke Daerah (TKD) tahun 2025, Kota Jambi memimpin dengan pendapatan Rp1,77 triliun dan belanja Rp1,81 triliun, disertai PAD terealisasi Rp618,98 miliar pada tahun sebelumnya.

Sebaliknya, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh hanya memiliki postur pendapatan sekitar Rp0,70 triliun; Kerinci bahkan mencatat tingkat ketergantungan terhadap transfer pusat mencapai lebih dari 98 persen, sementara Kota Sungai Penuh hanya menyerap TKD sebesar 72,98 persen.
Sementara itu, wilayah kaya SDA seperti Tanjung Jabung Barat menerima alokasi transfer tertinggi yaitu Rp1,71 triliun, disusul Muaro Jambi Rp1,39 triliun dan Batanghari Rp1,27 triliun.

Baca Juga  Romi - Sudirman Berpeluang Besar Menang Pilgub Jambi, Ini Alasannya…

Menanggapi kondisi tersebut, Noviardi Ferzi, pengamat ekonomi dan kebijakan publik asal Jambi, menegaskan bahwa angka besar pada APBD wilayah kaya SDA tidak boleh disamakan dengan kemandirian fiskal.

Baca Juga  Hujan Deras Picu Longsor di Bungo, Satu Anak Tewas dan Balita Kondisi Kritis

“Itu adalah hasil dari parameter alokasi pemerintah pusat, sehingga setiap perubahan kebijakan fiskal nasional langsung mengguncang postur anggaran daerah tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya ia memperingatkan bahwa ketergantungan pada DBH sektor minyak, gas, dan kehutanan menempatkan daerah pada posisi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.

Kemandirian fiskal rata-rata daerah dinilai masih jauh di bawah angka nasional, dengan hanya Kota Jambi yang mencapai rasio sekitar 41 persen, sementara sebagian besar wilayah lain berada di bawah 20 persen.

Secara keseluruhan, penyaluran TKD provinsi per September 2025 mencapai Rp11,68 triliun atau 76,06 persen dari pagu. Komposisi belanja yang masih didominasi belanja operasional hingga 88,5 persen pada triwulan I juga menyempitkan ruang untuk investasi jangka panjang.

Baca Juga  Bupati Dillah Pantau Langsung Progres Pembangunan Jalan dan Jembatan di Mendahara

Noviardi mendesak pemerintah daerah mempercepat hilirisasi komoditas seperti sawit dan karet, memperkuat digitalisasi pemungutan pajak, serta menyusun instrumen pajak berbasis lingkungan terhadap perusahaan berskala besar.

“Jambi belum memiliki sistem pendapatan yang mandiri dan berkelanjutan. Selama masih bergantung pada transfer dan bagi hasil yang sifatnya eksternal dan sementara, fondasi fiskal daerah akan tetap rapuh,” tegasnya. | DOD

Share :

Baca Juga

Politik

Hasil Survei Melesat, Budi Setiawan “Dicegat”

Reportase

Laju Inflasi Nasional Menurun, Pengamat Ingatkan Jangan Terjebak Euforia

Reportase

KPwBI Jambi Gelar Jelajah Buku Inspiratif, Hadirkan Penulis Dee Lestari dan Agus Mulyadi

Reportase

Bantu Operasi Amole di Papua, Polda Jambi Kirim 100 Personel Brimob

Reportase

Wali Kota Jambi Apresiasi Penangkapan Alung

Reportase

Tangani Banjir Mandiangin, Al Haris Minta Bantuan Pemerintah Pusat

Nasional

Presiden Prabowo Subianto Bertemu Raja Thailand King Rama 10

Reportase

Jembatan Batanghari I Rusak Ditabrak Tongkang Batu Bara, Al Haris: Harus Ganti !