Home / Reportase

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:23 WIB

Ekonomi Indonesia Tak Bisa Diukur dengan Kacamata Barat

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM — Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai kritik majalah internasional The Economist terhadap arah ekonomi dan demokrasi Indonesia perlu disikapi secara rasional dan proporsional.

Menurutnya, pandangan media asing tersebut cenderung menggunakan perspektif ekonomi liberal Barat yang belum tentu sepenuhnya sesuai dengan karakter pembangunan negara berkembang seperti Indonesia.

Sebelumnya, pada edisi 14 Mei 2026, The Economist menerbitkan dua artikel berjudul “Indonesia’s President Is Jeopardising the Economy and Democracy” serta “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country, Is on a Risky Path”.

Artikel tersebut menyoroti kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program sosial berskala besar, pembentukan Danantara, hingga isu demokrasi dan konsolidasi politik nasional.

Menurut Noviardi, tudingan bahwa pemerintah terlalu boros atau spendthrift tidak sepenuhnya didukung data ekonomi makro Indonesia saat ini.

Ia menegaskan, negara berkembang seperti Indonesia justru memerlukan stabilitas politik dan intervensi strategis negara untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional.

Baca Juga  Kasus Amrizal di Mata “Duo Usman”

“Kalau melihat indikator fundamental, defisit APBN Indonesia masih berada di bawah ambang batas 3 persen dari PDB. Rasio utang pemerintah juga relatif aman dibanding banyak negara maju. Jadi narasi seolah-olah Indonesia sedang menuju krisis fiskal itu terlalu berlebihan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam teori ekonomi pembangunan modern, belanja negara yang ekspansif pada fase transformasi ekonomi justru dapat menjadi instrumen pertumbuhan. Program sosial seperti Makan Bergizi Gratis seharusnya dipandang sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang.

“Program gizi bukan semata biaya, tetapi investasi human capital. Banyak riset internasional menunjukkan kualitas gizi anak berkorelasi langsung dengan produktivitas ekonomi masa depan,” katanya.

Noviardi juga menilai kritik terhadap pembentukan Danantara perlu dilihat secara objektif. Menurutnya, konsep superholding investasi negara bukan sesuatu yang asing dalam praktik ekonomi global.

Baca Juga  Juara Umum Kejurprov Domino, Tim Tanjabtim Melenggang ke Bogor

“Singapura punya Temasek, Uni Emirat Arab punya Mubadala. Jadi bukan soal besar kecilnya peran negara, tetapi bagaimana tata kelola, transparansi, dan pengawasannya diperkuat,” jelasnya.

Terkait hilirisasi industri, Noviardi menyebut kebijakan tersebut justru merupakan langkah strategis agar Indonesia keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah.

Ia menilai negara-negara industri besar pada masa awal pertumbuhannya juga menggunakan pendekatan proteksi dan intervensi negara.

“Hilirisasi telah meningkatkan investasi pengolahan mineral dan memperbesar nilai tambah ekspor nasional. Jadi tidak tepat jika langsung dianggap sebagai distorsi pasar,” ujarnya.

Di bidang politik dan demokrasi, Noviardi Ferzi menilai asumsi bahwa penguatan negara identik dengan otoritarianisme juga terlalu simplistis. Sistem presidensial memang membutuhkan stabilitas politik dan dukungan parlemen yang cukup besar agar agenda pembangunan dapat berjalan efektif.

Baca Juga  SKK Migas — KKKS Berjuang Keras, Produksi Minyak di Sumbagsel Naik

“Selama pemilu tetap kompetitif, media masih bebas mengkritik, oposisi tetap ada, dan masyarakat sipil masih aktif, maka demokrasi substantif tetap berjalan,” katanya.

Ia juga menilai kekhawatiran terhadap latar belakang militer Presiden Prabowo Subianto seharusnya diuji berdasarkan praktik pemerintahan, bukan asumsi masa lalu.

“Hingga hari ini tidak ada pembubaran oposisi, tidak ada pelarangan media, dan ruang kritik publik masih terbuka luas. Jadi penilaian harus berbasis fakta objektif,” tegasnya.

Menurut Noviardi, kritik dari media internasional tetap penting sebagai bahan evaluasi, namun Indonesia juga perlu percaya diri dengan model pembangunan yang sedang dijalankan.

“Banyak negara berkembang membutuhkan negara yang kuat untuk mempercepat transformasi ekonomi dan menjaga stabilitas sosial. Perspektif Barat sering terlalu menekankan liberalisasi pasar, padahal konteks Indonesia berbeda,” pungkasnya. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

BBS Ajak Pemerintah Desa Gali Potensi Tingkatkan Ketahanan Pangan

Daerah

Setelah Tiga Hari Pencarian Bocah Tenggelam di Sungai Berbak Akhirnya Ditemukan

Politik

Elektabilitas Dilla Hich Makin Kencang, Calon Wakil Sangat Menentukan

Reportase

Hujan Bukan Penghalang, Hafiz Sambut Aliansi Suara Rakyat Jambi

Reportase

Prabowo Perintahkan Berantas Judi Online, Polda Jambi Tangkap Penjual Togel

Reportase

Nasroel Yasir: Pelantikan Amrizal Sebaiknya Ditunda, Jangan Anggap Remeh Masalah Ini…

Reportase

Ditresnarkoba Polda Jambi Tangkap Mahasiswa Asal Aceh Jaringan Narkoba Internasional

Reportase

Wantim Golkar Minta Kapolda Jambi Tinjau Ulang Penghentian Kasus Ijazah Amrizal