JAMBIBRO.COM – Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketiga kalinya secara beruntun bukan sekadar persoalan teknis di lapangan.
Penggemar sepakbola yang juga dikenal sebagai pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai ada masalah struktural yang sudah lama menggerogoti fondasi sepak bola Italia, terutama terkait model bisnis klub dan lemahnya pembinaan pemain muda.
Menurut Noviardi, mayoritas klub besar Serie A masih terjebak pada model stadion milik pemerintah daerah yang membuat ruang gerak ekonomi klub menjadi sangat terbatas.
Klub-klub seperti AC Milan, Inter Milan, Lazio, dan AS Roma harus berbagi stadion publik, seperti San Siro atau Stadion Olimpico, sehingga mereka membayar sewa tinggi dan tidak memiliki keleluasaan mengembangkan sumber pendapatan baru.
“Ketika stadion bukan milik klub, maka klub tidak punya kontrol penuh terhadap tiket, konser, naming rights, museum, hotel, pusat belanja, sampai fasilitas akademi. Akibatnya pendapatan klub stagnan dan terlalu bergantung pada hak siar televisi atau penjualan pemain,” kata Noviardi, Sabtu, 4 April 2026.
Noviardi menilai, kondisi tersebut sangat berbeda dengan klub seperti Juventus yang memiliki Allianz Stadium, atau Atalanta yang mengelola Gewiss Stadium.
Kepemilikan stadion sendiri membuat klub bisa menciptakan pendapatan tambahan sepanjang tahun, memperkuat arus kas, dan memperbesar investasi pada akademi pemain muda.
Menurut Noviardi, rendahnya pendapatan klub akhirnya mempengaruhi pembinaan talenta lokal. Banyak klub lebih memilih merekrut pemain asing murah, atau pemain jadi daripada mengeluarkan biaya besar untuk membangun akademi modern, pelatih usia dini, asrama, hingga fasilitas latihan yang terintegrasi.
“Kalau klub tidak punya uang, investasi pertama yang dipotong biasanya akademi. Padahal keberhasilan sepak bola modern dimulai dari pembinaan. Italia pernah punya generasi emas seperti Francesco Totti, Roberto Baggio, dan Andrea Pirlo, tapi sekarang talenta muda Italia justru sulit menembus tim utama,” ujarnya.
Noviardi menambahkan, banyak stadion tua, seperti Stadion Artemio Franchi atau Renato Dall’Ara tidak memiliki infrastruktur akademi memadai. Akibatnya, regenerasi pemain Italia berjalan lambat, sementara klub-klub Serie A lebih sering mengandalkan pemain impor.
Fenomena ini dinilai berkontribusi besar terhadap krisis tim nasional Italia yang kini gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun, yakni 2018, 2022, dan 2026. Bahkan, hanya sedikit pemain aktif Serie A yang memiliki pengalaman tampil di turnamen besar dunia.
Italia sendiri dipastikan kembali absen dari Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina di babak play-off. Kekalahan tersebut memperpanjang kemerosotan salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola dunia yang sebelumnya pernah menjuarai Piala Dunia empat kali.
Noviardi menilai reformasi besar harus segera dilakukan, mulai dari percepatan pembangunan stadion milik klub, insentif bagi akademi, hingga kewajiban memberi menit bermain lebih besar kepada pemain muda lokal.
“Tanpa reformasi ekonomi sepak bola, Italia akan terus tertinggal. Kekuatan sepak bola modern bukan hanya soal pelatih atau taktik, tetapi juga soal model bisnis, infrastruktur, dan keberanian berinvestasi pada generasi muda,” tegasnya. | DIA




















