Home / Reportase

Jumat, 31 Oktober 2025 - 22:47 WIB

OJK Rilis Dua Regulasi Baru untuk Perkuat Perbankan Syariah

Ilustrasi | by copilot

Ilustrasi | by copilot

JAMBIBRO.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengeluarkan dua Peraturan OJK (POJK) terbaru, untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri perbankan syariah nasional. Kedua regulasi itu, POJK Nomor 20 Tahun 2025 dan POJK Nomor 21 Tahun 2025.

POJK Nomor 20 Tahun 2025 mengatur kewajiban pemenuhan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Sementara itu, POJK Nomor 21 Tahun 2025 menetapkan kewajiban pemenuhan Leverage Ratio bagi BUS.

Melalui POJK Nomor 20 Tahun 2025, OJK mewajibkan BUS dan UUS menjaga rasio LCR dan NSFR minimal 100 persen. Ketentuan ini diterapkan bertahap, bertujuan memastikan ketersediaan likuiditas jangka pendek serta pendanaan jangka panjang yang stabil.

Baca Juga  Wali Kota Maulana Apresiasi GPM Polri

Dengan demikian, BUS dan UUS diharapkan mampu merespons dinamika ekonomi dan gejolak pasar keuangan secara lebih tangguh.

Bank-bank syariah juga diwajibkan melakukan perhitungan dan pemantauan rasio likuiditas, serta pendanaan stabil secara berkala, baik secara individu maupun konsolidasi.

Pelaporan dan publikasi atas rasio tersebut akan dimulai bertahap dari tahun 2026 hingga 2028, menyesuaikan kesiapan industri dan sistem pelaporan keuangan syariah.

Regulasi ini disusun berdasarkan standar internasional Basel III dan Guidance Note GN-6 dari Islamic Financial Services Board (IFSB), guna memastikan sistem keuangan syariah Indonesia selaras dengan praktik global.

Baca Juga  Gedung Sekolah Rakyat Belum Rampung, Pemprov Jambi Siapkan Lokasi Sementara

Penerapan aturan ini juga menjadi bagian dari Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027, khususnya Pilar I dan Pilar V yang menekankan penguatan struktur industri serta regulasi dan pengawasan.

POJK Nomor 21 Tahun 2025 mengatur kewajiban pemenuhan Leverage Ratio bagi BUS, dengan ambang batas minimum 3 persen. Rasio ini berfungsi sebagai indikator tambahan untuk memperkuat struktur permodalan, tanpa mempertimbangkan pembobotan risiko aset dan mitigasi risiko.

Aturan ini mengacu pada standar Basel III tahun 2014 dan 2017, serta IFSB-23 tahun 2021. BUS diwajibkan menjaga rasio tersebut setiap waktu, dengan pelaporan pertama berlaku untuk posisi akhir triwulan I tahun 2026 dan publikasi dimulai September 2026.

Baca Juga  Inovasi ATM Botol Plastik dan Kompos Biopori Warnai Peresmian Pendopo Baru SMPN 16 Kota Jambi

POJK ini mulai berlaku sejak diundangkan pada 17 September 2025. BUS yang belum memenuhi ambang batas dapat mengajukan rencana tindak kepada OJK. Sanksi administratif, baik denda maupun non-denda, akan dikenakan bagi BUS yang tidak mematuhi ketentuan.

Dengan regulasi ini, OJK berharap struktur permodalan BUS semakin kokoh, menjadi fondasi bagi sistem perbankan syariah yang sehat, berkelanjutan, dan kompetitif di tingkat global. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

Kementerian Pertahanan Gelar Workshop Pembinaan Kesadaran Bela Negara di Jambi

Reportase

Hadirkan Hanan Attaki hingga dr. Aisah Dahlan, BI Jambi Semarakkan Siginjai Fest 2026

Reportase

“Pemkot Jambi Mendengar”, Langkah Nyata Atasi Banjir

Reportase

Jabat Bendahara Ikal—Lemhannas Jambi, Diza Hazra Aljosha Siap Berkontribusi Maksimal

Reportase

Pemkab Muaro Jambi Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Kumpeh Ulu

Reportase

Senja Kembali Menyala, Lansia Kota Karang Temukan Harapan Bersama Pertamina EP

Reportase

Pengurus Cabor Diminta Maksimalkan Penggunaan Dana Pembinaan KONI

Reportase

Ngopi Santai, Bupati Muaro Jambi dan Kadensus88 Perkuat Sinergi