Home / Reportase

Rabu, 20 Agustus 2025 - 22:52 WIB

Mandi Shafar, Warisan Tradisi Laut yang Menyatukan Tanjung Jabung Timur

Bupati Tanjung Jabung Timur, Dillah Hikmah Sari, menabur bunga pada pelepasan rakit menara ke laut | dia

Bupati Tanjung Jabung Timur, Dillah Hikmah Sari, menabur bunga pada pelepasan rakit menara ke laut | dia

JAMBIBRO.COM — Pagi itu, Rabu 20 Agustus 2025, Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, riuh. Sejak subuh, warga sudah berdatangan.

Sebagian warga menyeberang sungai dengan perahu kecil. Sebagian lagi berjalan kaki melewati jalur darat. Tujuan mereka sama, menghadiri prosesi adat Mandi Shafar, tradisi turun-temurun yang dipercaya untum menolak bala dan doa bersama untuk keselamatan.

Di antara kerumunan, tampak Bupati Tanjung Jabung Timur, Hj. Dillah Hikmah Sari, dan Wakil Bupati Muslimin Tanja. Kehadiran kepala daerah ini memberi makna khusus bagi masyarakat.

Dillah dan Muslimin menunjukkan bahwa budaya tidak hanya berupa ritual-ritual kepercayaan, tetapi juga tradisi yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Mandi Shafar bukan sekadar mandi massal di laut. Ada rangkaian prosesi yang penuh simbol. Salah satunya pemasangan daun doa.

Daun yang telah dirapal doa itu dipasang di tempat tertentu, diyakini sebagai media untuk membawa harapan, keselamatan, dan kesehatan bagi warga.

Tak berhenti di situ, puncak acara ditandai dengan pelepasan rakit menara ke laut. Rakit dihias dengan penuh ornamen dilepas perlahan, terbawa ombak menuju lepas pantai.

Baca Juga  Pemkab Tanjabtim Safari Ramadhan di Kuala Jambi

Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sahabat, sekaligus tantangan. Dengan melepas rakit menara, mereka seolah-olah menyampaikan doa kepada penguasa laut, semoga terlindungi dari bahaya dan diberi hasil penangkapan yang banyak.

Bupati Dillah terlihat khidmat mengikuti rangkaian acara. Dillah menyapa warga dan berbincang dengan para tetua adat. Dillah menyampaikan bahwa tradisi ini adalah bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dijaga.

Wakil Bupati Muslimin Tanja juga terlibat dalam prosesi tersebut, bahkan ikut membantu saat menara dirakit dan dilepas ke laut.

Di balik nuansa agama dan budaya, Mandi Shafar memberikan dampak ekonomi yang nyata. Sejak sehari sebelum acara, jalur menuju Desa Air Hitam Laut dipadati pedagang kaki lima, penjual kuliner khas pesisir, hingga penyedia jasa transportasi perahu.

Warung kopi sederhana yang biasanya sepi, mendadak penuh. Penjual kerupuk ikan dan olahan laut laris manis. Bahkan, anak-anak muda memanfaatkan momen ini untuk menjajakan suvenir sederhana, seperti gantungan kunci bergambar rakit menara.

Baca Juga  Perjuangan Bupati Romi di Rantau Rasau, dari Jalan Rigid Beton hingga Rumah Sakit dan SPBU

“Alhamdulillah, setiap tahun ada acara ini, jualan kami pasti laku. Kadang bisa tiga kali lipat dari hari biasa,” kata seorang pedagang makanan ringan.

Perekonomian lokal bergerak, silaturahmi masyarakat terjalin, dan tradisi adat tetap hidup. Inilah harmoni yang membuat Mandi Shafar lebih dari sekadar ritual. Tradisi ini adalah ruang kebersamaan yang menghidupkan denyut pesisir Tanjung Jabung Timur.

Bagi masyarakat pesisir Sadu, Mandi Shafar bukan hanya milik orang tua. Generasi muda pun dilibatkan, sebagai peserta maupun pengisi acara kesenian. Para pelajar, karang taruna, sampai mahasiswa yang pulang kampung, semuanya turut serta terlibat.

Bupati Dillah menekankan, pelestarian tradisi seperti Mandi Shafar harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Tanjung Jabung Timur punya banyak kekayaan budaya. Jika dikelola dengan baik, Mandi Shafar akan menjadi agenda wisata tahunan yang memberi manfaat lebih luas.

Dengan dukungan pemerintah, ritual yang dulu hanya sebatas adat lokal, kini perlahan dilirik sebagai daya tarik budaya dan wisata. Ini memberi kesempatan yang lebih luas, tidak hanya untuk melindungi warisan dari nenek moyang, tetapi juga memperkuat kondisi ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Pemkab Tanjab Timur Apresiasi Bantuan Bencana Banjir dari PetroChina

Di tengah arus modernisasi yang sering kali membuat tradisi budaya perlahan pudar, Mandi Shafar di Tanjung Jabung Timur masih berdiri kokoh.

Prosesi daun doa dan pelepasan rakit menara ke laut bukan hanya simbol penolak bala, tapi juga tanda masyarakat pesisir masih erat berpegang pada warisan leluhur.

Kehadiran Bupati Dillah Hikmah Sari dan Wakil Bupati Muslimin Tanja dalam acara tahun ini memberikan kesan yang berbeda. Adanya pemimpin bersama masyarakat dalam sebuah ritual budaya menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat bisa berjalan bersama sambil menjaga identitas daerah.

Mandi Shafar dengan segala keunikan dan dampaknya, bukan hanya cerita tentang laut dan doa. Tapi cermin kebersamaan, ruang silaturahmi, sekaligus penggerak ekonomi. Sebuah warisan yang tak hanya dijaga, tapi juga terus dirayakan sebagai kebanggaan Tanjung Jabung Timur. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

Korban Tabrakan Kapal Ditemukan 11 Kilometer dari Lokasi Kejadian

Politik

Enam Bulan Menuju Pilkada Serentak 2024, Partisipasi Pemilih Ditargetkan 87 Persen

Politik

Resmi Daftar ke Demokrat, Budi dan Roro Saling Kode

Reportase

Brigjen Pol M Mustaqim Dimutasi, Brigjen Pol B Ali Jadi Wakapolda Jambi

Reportase

Pasar Modal Indonesia Menguat dan Berintegritas Sepanjang 2025

Reportase

PPPK Muarojambi Siap-Siap ! BBS Instruksikan SK Diserahkan Sebelum 1 Juli 2025

Reportase

Korem 042 Dukung Penuh Program Makan Bergizi

Reportase

Ciptakan Pemilu Aman, Bawaslu Jambi Apresiasi Kepolisian Selama 2024