Home / Reportase

Senin, 25 Mei 2026 - 20:40 WIB

BI Rate Naik, Kepercayaan Pasar Terjaga

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM — Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen mendapat respons beragam dari kalangan perbankan nasional.

Di tengah meningkatnya tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah, langkah tersebut dinilai sebagai kebijakan antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan nasional.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai kenaikan BI Rate justru menunjukkan kuatnya komitmen Bank Indonesia menjaga kepercayaan pasar serta ketahanan ekonomi domestik.

Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan sikap antisipatif dan forward looking Bank Indonesia dalam merespons tekanan eksternal, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, tensi geopolitik global, hingga dinamika pasar keuangan internasional yang berpotensi mempengaruhi stabilitas domestik.

Baca Juga  Misteri di Balik Kasus Pencabulan Pejabat Pemprov Jambi

“Dalam situasi global yang penuh tekanan, kebijakan kenaikan BI Rate menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Ini bukan semata soal bunga, tetapi tentang menjaga kepercayaan terhadap rupiah dan sistem keuangan Indonesia,” ujarnya.

Noviardi menilai, respon positif perbankan nasional terhadap kenaikan BI Rate menunjukkan fundamental sektor keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup sehat.

Hal itu terlihat dari kesiapan bank-bank besar menjaga likuiditas, memperkuat dana murah atau CASA, serta tetap menjaga kualitas kredit dan profitabilitas.

Menurutnya, industri perbankan nasional saat ini jauh lebih siap menghadapi tren suku bunga tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya, karena didukung penguatan manajemen risiko, stress test berkala, hingga strategi efisiensi biaya dana yang semakin baik.

Baca Juga  Udara Jambi Memburuk, ISPU Tembus Level Sangat Tidak Sehat

“Bank-bank nasional sekarang lebih adaptif. Mereka mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara bersamaan. Ini menjadi indikator penting bahwa sektor perbankan tetap resilien,” katanya.

Noviardi juga menyoroti langkah perbankan yang terus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah atau CASA, sebagai strategi menjaga efisiensi cost of fund di tengah kenaikan suku bunga acuan.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar pengetatan moneter tetap diimbangi dengan keberlanjutan fungsi intermediasi perbankan, terutama dalam penyaluran kredit kepada sektor produktif dan UMKM yang menjadi penggerak utama ekonomi domestik.

Baca Juga  Diduga Kuat Akibat Pencurian, Tim PEP Jambi Cepat Atasi Kebocoran Minyak di Desa Pondok Meja

“Dalam bisnis bank, yang harus dijaga adalah keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Jangan sampai kenaikan suku bunga justru memperlambat pembiayaan sektor riil yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.

Meski demikian, Noviardi optimistis kondisi ekonomi Indonesia secara umum masih memiliki fondasi kuat. Konsumsi domestik yang tetap tumbuh, inflasi relatif terkendali, serta ketahanan sektor perbankan dinilai menjadi modal penting menghadapi tekanan global ke depan.

“Kenaikan BI Rate memang membawa konsekuensi terhadap biaya dana dan pembiayaan, tetapi dalam perspektif makro kebijakan ini penting untuk menjaga kredibilitas ekonomi nasional dan stabilitas rupiah dalam jangka panjang,” ungkapnya. | DOD

 

Share :

Baca Juga

Reportase

Ancaman Cabut Izin PKS Efektif Pulihkan Harga TBS

Reportase

Bupati Monadi Sambangi Kediaman Apriodito Umar, Dua Sahabat Bicarakan Pembangunan Kerinci

Reportase

BBS Tegaskan Tidak Ada Jual Beli Jabatan di Pemerintahannya

Reportase

Harry Maitimu Gembleng Petinju Jambi Hadapi PON XXI Aceh – Sumut

Reportase

Pemkab Tanjabtim dan Densus 88 Perkuat Benteng Pencegahan Radikalisme

Reportase

Wawako Diza Dukung Seni Pertunjukan Bertema Lingkungan sebagai Penggerak Kota Hijau

Reportase

Puluhan Ribu Masker N98 Bantuan Presiden Mengalir ke Jambi

Reportase

RSUD Bukit Tengah Telan Dana 137,5 Miliar, Target Rampung Desember