KAWASAN konservasi gajah di Kabupaten Tebo, Jambi, menjadi fokus pengamanan ketat di tengah ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda.
Personel Satuan Brimob Polda Jambi bersama jajaran instansi terkait meluncurkan aksi patroli terpadu, guna membentengi rumah alami bagi satwa langka yang dilindungi tersebut.
Agenda penyisiran rimba dilakukan sebagai langkah konkrit sinergi memantau kawasan konservasi gajah dari berbagai potensi bahaya.
Karhutla yang masih mengancam sebagian wilayah Provinsi Jambi dinilai berisiko tinggi merusak ruang hidup dan keselamatan kelompok gajah.
Dalam pergerakan di lapangan, tim gabungan secara cermat memeriksa kondisi tutupan hutan serta titik-titik krusial yang menjadi habitat utama gajah sumatra.
Penjagaan terpadu ini difokuskan untuk mematahkan potensi gangguan keamanan sekaligus mendeteksi secara dini percikan api karhutla yang mengancam ekosistem.
Kehadiran para personel Bromob di areal konservasi diharap mampu menyuntikkan rasa aman bagi masyarakat lokal yang bermukim di sekitar batas hutan.
Langkah perlindungan ini diselipkan pula sebagai sarana edukasi publik untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan alam sekitar.
Kapolda Jambi, Irjen Pol Krisno Halomoan Siregar melalui Kabid Humas Kombes Pol Erlan Munaji menegaskan, penyisiran terpadu ini merupakan komitmen konkret Polri bersama para pemangku kepentingan.
Sinergi ditujukan penuh untuk mengamankan kawasan konservasi serta melipatgandakan perlindungan bagi keberadaan satwa di dalamnya.
Patroli merupakan bentuk sinergi dan kepedulian bersama untuk memastikan kawasan konservasi tetap aman, sekaligus memantau kondisi habitat gajah di tengah situasi rawan karhutla.
“Kami ingin memastikan upaya pencegahan dan penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada perlindungan masyarakat, tapi juga memperhatikan keberlangsungan ekosistem dan satwa liar,” ujar Erlan.
Erlan menyebut, kepolisian siap terus menyokong seluruh aksi terpadu menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah bencana karhutla.
Skema antisipasi diposisikan juga untuk meredam potensi benturan, atau konflik horizontal antara satwa liar dengan warga pemukiman.
“Kelestarian gajah dan habitatnya merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, sinergi antarinstansi perlu terus diperkuat agar kawasan konservasi tetap terjaga, masyarakat di sekitar kawasan merasa aman, dan ekosistem dapat terlindungi secara berkelanjutan,” tegas Erlan. | dod







