JAMBIBRO.COM — Suasana mencekam menyelimuti wilayah operasional PT Sari Aditya Loka (SAL). Bentrokan berdarah pecah antara kelompok Suku Anak Dalam (SAD) dan petugas keamanan perusahaan, Ahad sore, 12 April 2026.
Insiden brutal ini mengakibatkan sejumlah orang dari kedua belah pihak menderita luka tembak serius. Juga ada yang terkena hantaman benda keras hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Mengutip INFOJAMBI.COM, dua warga dari kelompok SAD saat ini sedang menjalani perawatan intensif di RSUD Kolonel Abundjani, Bangko, akibat luka-luka yang mereka derita.
Salah satu korban, Nyuntin, mengaku sempat kehilangan kesadaran. Ia melaporkan seorang rekannya masih hilang di lokasi kejadian.
“Dua orang masuk rumah sakit, 1 belum ditemukan,” ungkap Nyuntin di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), seperti ditulis INFOJAMBI.COM.
Nyuntin dirawat bersama rekannya, Nyelitis, dengan kondisi fisik cukup memprihatinkan. Ia menderita luka pukul parah di bagian pinggul belakang, membuatnya kesulitan bergerak.
Hingga saat ini, rekan mereka bernama Nyatan dilaporkan belum ditemukan. Nasibnya juga belum diketahui. Korban lain yang teridentifikasi dari kelompok masyarakat adat itu diketahui bernama Syawal.
Berdasarkan pengakuan Nyuntin, peristiwa bermula saat mereka mencoba menengahi ketegangan antara warga SAD Air Panas dan pihak keamanan PT SAL II.
Namun, proses mediasi yang diharapkan membawa perdamaian, justru berujung serangan mendadak yang menyasar kelompok SAD SPI.
Konflik diduga kuat dipicu oleh penolakan keras warga SAD terhadap penempatan 60 personel keamanan baru asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di perusahaan sawit tersebut.
Para penjaga keamanan yang baru bertugas selama dua hari itu dianggap menjadi pemicu gesekan di lapangan.
Di sisi lain, tiga anggota satpam perusahaan menderita luka-luka mengerikan dan dirawat terpisah di RS Raudah.
Mereka dikabarkan menjadi sasaran tembakan senjata api yang diduga diletuskan selama aksi bentrokan berlangsung.
Sebanyak empat orang petugas keamanan dilaporkan terkena tembakan, satu di antaranya terpaksa dirujuk ke fasilitas kesehatan lain karena kondisi darurat.
Para korban yang dirawat di RS Raudah menderita luka tembus di bagian vital tubuh mereka.
“Ada ratusan anggota SAD, 200 dekat lokasi, 200 dari luar,” ujar seorang satpam yang terluka, Melianus Trelaka.
Melianus mengalami luka tembak yang sangat berbahaya di bagian kepala, sementara dua rekannya menderita luka serupa di bagian dada.
Korban lain, Ahmad Saifudin dan Musa Mabilani, juga harus berjuang melawan rasa sakit akibat serpihan peluru di area pinggang.
Melianus mengaku tidak tahu pasti pangkal permasalahannya. Ia hanya menjalankan instruksi menjaga area perusahaan.
Menurut Melianus, situasi terjadi begitu cepat, sehingga mereka hanya bisa pasrah menghadapi serangan massa yang berjumlah besar.
“Datang ke sini kami disuruh jaga, nggak tahu begitu. Ya kami pasrah,” ungkap Melianus mengenang detik-detik mencekam tersebut.
Karyawan PT SAL, Kartubi, membenarkan adanya insiden berdarah tersebut. Ada orang korban dari pihak perusahaan masih dalam perawatan.
Meski demikian, Kartubi yang dihubungi wartawan melalui telepon belum bisa memberi penjelasan rinci mengenai kronologi kejadian, karena masih dalam perjalanan.
Akibat kemarahan massa, sebuah bangunan mess milik PT SAL II hangus terbakar. Kobaran api menghanguskan fasilitas perusahaan menambah daftar panjang kerugian akibat konflik horizontal ini.
Pihak kepolisian dari Polres Merangin masih bersiaga penuh di lokasi kejadian, guna mencegah terjadinya bentrokan susulan.
Petugas berjaga di titik-titik rawan sambil melakukan penyisiran untuk mencari korban yang dilaporkan hilang dan menjaga agar situasi tetap kondusif. | DIA




















