JAMBIBRO.COM – Dari kejauhan, Stadion Swarnabhumi, di Pijoan, Kabupaten Muaro Jambi, berdiri megah dengan bangunan berlapis beton yang belum juga difungsikan.
Namun, di balik tembok besar bangunan milik Pemerintah Provinsi Jambi itu, tersimpan cerita yang kini jadi perbincangan hangat: tumpukan tanah.
Bukan karena kursi penonton, bukan pula rumput lapangan, melainkan urugan tanah yang nilainya bikin dahi berkerut: Rp24 miliar.
Angka fantastis ini tertera jelas dalam dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek yang dikerjakan kontraktor PT Sinar Cerah Sempurna, asal Semarang.
Volume timbunan tercatat 220 ribu meter kubik lebih, dengan harga satuan Rp109.500 per meter kubik.
Proyek stadion beranggaran total Rp244 miliar ini memang dikerjakan melalui skema multiyears selama tiga tahun, 2022 hingga 2024. Namun justeru item pekerjaan timbunan tanah itulah yang kini jadi sorotan tajam publik.
Aktivis Jambi, Danil Febriandi, termasuk yang paling keras bersuara. Baginya, angka Rp24 miliar untuk timbunan tanah terlalu janggal untuk dibiarkan begitu saja.
“Negara harus bertanggung jawab. Apa iya timbunan tanah bisa sampai sebanyak itu? Ini mencurigakan, harus ada audit, harus ada cek lapangan. DPRD juga jangan hanya diam,” ujarnya tegas.
Bagi Danil, persoalan ini bukan sekadar hitungan angka di atas kertas. Ia menerima banyak keluhan masyarakat sekitar stadion yang justru menanggung dampak dari penimbunan tersebut.
“Warga sering mengeluhkan banjir setelah lahan stadion ditimbun. Itu artinya ada yang tidak dipikirkan matang sejak awal,” katanya.
Cerita banjir memang kerap terdengar dari masyarakat sekitar stadion. Hujan deras yang turun lebih cepat menggenangi jalan dan rumah, karena aliran air terhambat. Tanah timbunan yang menutup resapan alami dianggap salah satu penyebabnya.
Seorang pengamat pembangunan di Jambi juga mengingatkan soal metode penimbunan.
“Apakah benar prosesnya sesuai kaidah teknis, atau sekadar meninggikan permukaan tanah tanpa memperhatikan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Hingga kini, publik masih menunggu jawaban. Benarkah Rp24 miliar itu sepadan dengan volume tanah yang sudah diurug? Apakah metode yang digunakan sudah benar? Dan, yang tak kalah penting, bagaimana nasib warga sekitar yang kini harus menanggung risiko banjir?
Stadion Jambi Swarnabhumi memang belum beroperasi, namun kisah timbunan tanah bernilai fantastis itu sudah lebih dulu menggema. Bukan karena kejayaan olahraga yang diharapkan, melainkan karena tanda tanya besar yang menuntut jawaban. | DIA