Home / Opini

Selasa, 14 Oktober 2025 - 21:07 WIB

SMA Titian Teras Tetap Menyala, Meski Tak Menyilaukan

Dr. Noviardi Ferzi

Dr. Noviardi Ferzi

Oleh: Dr. Noviardi Ferzi | Pengamat Ekonomi, Sosial dan Politik

SMU Titian Teras Jambi, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti, adalah sekolah menengah atas berasrama yang didirikan pada 14 Juli 1994. Sekolah ini awalnya merupakan lembaga pendidikan menengah swasta hasil kerja sama antara Yayasan Pendidikan Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, dan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jambi.

Berdiri dengan semangat mencetak kader pembangunan bangsa dari Jambi yang beriman, berwawasan luas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berjiwa patriotik. Jadi, selama ini dibenak orang Jambi, sekolah Titian Teras adalah sekolah unggulan, idaman siswa dan orang tua.

Sekolah unggul tidak harus diukur dari seberapa sering ia muncul di media, melainkan dari seberapa kuat ia menjaga integritas, karakter, dan daya juang siswanya di masa depan.

Justru di tengah euforia pencitraan pendidikan hari ini —yang sibuk dengan konten media sosial dan lomba-lomba seremonial— SMA Titian Teras memilih jalannya sendiri: menanamkan mutu dalam diam. Ia tidak perlu berteriak untuk membuktikan dirinya masih ada.

Baca Juga  Sengkarut Hitam di Koto Boyo, Menyingkap Modus Mafia Batubara Jambi

Penelitian oleh Suliswiyadi (2015) menunjukkan bahwa sekolah unggulan tidak dibangun oleh publisitas, melainkan oleh manajemen mutu internal, kepemimpinan kepala sekolah, dan budaya belajar yang konsisten. Dengan kata lain, prestasi sejati tidak selalu lahir dari panggung, tapi dari ruang kelas yang senyap.

Mengatakan “prestasi menurun” tanpa data sama saja dengan menilai langit mendung hanya karena tak melihat matahari. Banyak capaian siswa TT di tingkat nasional hingga internasional yang tidak terekspos, karena tidak semua keberhasilan harus dirayakan di depan kamera. Kualitas bukanlah konser, melainkan proses panjang yang dijalani dengan kesabaran.

Fakta ini sejalan dengan temuan Liriwati, Syahid, & Mulyadi (2021) yang menegaskan bahwa indikator utama sekolah unggul bukanlah seberapa sering tampil di publik, melainkan kemampuan membawa setiap siswa mencapai potensi optimalnya secara terukur.

Seruan agar SMA TT menjadi “sekolah kelas dunia” terdengar indah, tapi juga berisiko menjadi jebakan glorifikasi global. Mengapa harus meniru Finlandia atau Singapura, jika Jambi punya akar nilai dan kearifan lokal sendiri?

Baca Juga  Pengamat Ekonomi Jambi Soroti Dana Rp200 Triliun ke Bank Himbara

Menurut Agustina & Kencana (2022), integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran terbukti meningkatkan kompetensi antarbudaya siswa tanpa harus menanggalkan identitas daerahnya. Dengan demikian, menjadi unggul tidak berarti menjadi tiruan, tapi mampu berdiri di panggung dunia dengan kepribadian sendiri.

Jika ukuran keberhasilan hanya dilihat dari berapa banyak siswa yang menembus kampus top dunia, maka kita sedang mengubah pendidikan menjadi pabrik sertifikasi sosial. Padahal, Damayanti & Niswatin (2023) menegaskan bahwa konsep sekolah unggulan ideal harus seimbang antara prestasi akademik dan kontribusi sosial. Tidak semua anak harus menjadi Harvardian untuk disebut berhasil. Ada yang memilih mengabdi di daerah, menjadi guru, tenaga kesehatan, penggerak UMKM, atau pemimpin komunitas. Mereka juga wajah keberhasilan pendidikan, bukan sekadar angka di papan prestasi.

Gagasan tentang “rekonstruksi digital dan globalisasi manajemen” tentu bagus, tapi harus diimbangi dengan realisme sumber daya. The World Bank dan SMERU Research Institute (2022) menemukan bahwa kualitas guru, kehadiran tenaga pengajar, dan fasilitas dasar sekolah justru memiliki korelasi lebih besar terhadap capaian akademik siswa dibandingkan inovasi yang bersifat simbolik. Dengan kata lain, membangun fondasi lebih penting daripada memburu citra modernitas.

Baca Juga  Pelabuhan Peti Kemas, Butuh Dukungan Produksi dan Hilirisasi, Tanpa itu Hanya Mimpi

Selain itu, penelitian Litaay et al. (2025) menunjukkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal mampu memperkuat toleransi dan karakter siswa di Maluku. Hal ini menegaskan bahwa “keterhubungan lokal” bukan penghambat kemajuan, melainkan pondasi moral bagi globalisasi yang berakar. SMA TT, dengan sejarah dan tradisinya, telah memainkan peran itu jauh sebelum jargon “sekolah kelas dunia” ramai digaungkan.

Jadi, sebelum bertanya “mana suaramu lagi?”, barangkali kita perlu belajar mendengar lebih baik. Mungkin suara itu tidak hilang—hanya lebih dalam, lebih tenang, dan lebih matang. SMA Titian Teras bukan lilin yang padam, melainkan obor yang memilih menyala dalam keheningan, bukan di bawah sorotan kamera. ***

 

Share :

Baca Juga

Opini

Sengkarut Hitam di Koto Boyo, Menyingkap Modus Mafia Batubara Jambi

Opini

Jalan Khusus Batu Bara Jangan Melegalkan Stokfile dan TUKS di Zona Pemukiman, Pertanian dan Sumber Air
Budi Setiawan

Opini

Saya Budi, Terima Kasih Warga Jambi, Terima Kasih Airlangga

Opini

Narkoba Menghancurkan Finansial Keluarga

Opini

Dumisake dan Transformasi Digital

Opini

HUT ke-63 TVRI: Terdepan Melayani di Tengah Gempuran Media Digital

Opini

PEJABAT UIN STS JAMBI: Jadilah Pohon Rindang di Tengah Padang

Opini

Belajar dari Dua Tanah Rawan : Refleksi Seorang Mahasiswa Indonesia Soal Gempa di Turki dan Indonesia