Home / Reportase

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:59 WIB

Sentimen Pasar dan Teori Ekspektasi, Rupiah di Persimpangan

JAMBIBRO.COM — Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.023 per dolar AS pada perdagangan Kamis lalu menjadi sinyal penting bagi perekonomian nasional.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai kondisi tersebut tidak semata-mata dipicu oleh gejolak global, tapi juga momentum memperkuat sektor-sektor penghasil devisa dan memperkokoh fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Noviardi, tekanan terhadap rupiah saat ini merupakan hasil pertemuan berbagai faktor eksternal dan domestik yang bekerja secara bersamaan.

Dari sisi global, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah meningkatkan ketidakpastian pasar dunia. Kondisi itu mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman, terutama dolar AS.

“Dalam teori flight to quality, ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung meninggalkan aset berisiko di negara berkembang dan memilih instrumen lebih aman. Akibatnya, terjadi arus keluar modal yang memberi tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Noviardi.

Baca Juga  Merangin Antara Hijau Pertumbuhan dan Kelabu PETI

Selain faktor geopolitik, kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih bertahan pada level tinggi juga membuat dolar AS semakin kuat.

Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset keuangan Amerika, dan mengurangi minat investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah turut memperbesar kebutuhan dolar AS untuk transaksi impor energi.

Dalam perspektif neraca pembayaran, kondisi ini menyebabkan permintaan valas meningkat sementara pasokan dolar di dalam negeri tidak bertambah secara signifikan.

“Ketika surplus perdagangan mulai menyusut dan kebutuhan dolar meningkat, maka tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar. Ini merupakan mekanisme ekonomi yang sangat klasik dalam sistem nilai tukar terbuka,” jelas Noviardi.

Faktor domestik juga dinilai berkontribusi terhadap pelemahan rupiah. Kenaikan inflasi Mei 2026 dibanding bulan sebelumnya, kebutuhan valas untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri, serta munculnya berbagai sentimen negatif di pasar keuangan membuat tekanan terhadap mata uang nasional semakin kuat.

Baca Juga  Konsumsi dan Ekspor Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Menurut Noviardi, pasar saat ini bergerak bukan hanya berdasarkan data ekonomi, tapi juga dipengaruhi persepsi dan tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

“Teori ekspektasi menjelaskan bahwa sentimen sering kali bergerak lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Ketika muncul keraguan terhadap kepastian regulasi, tata kelola fiskal, atau beredarnya rumor yang tidak terkendali, pasar akan bereaksi lebih agresif,” katanya.

Noviardi menilai kondisi saat ini masih dapat dikelola dengan baik. Langkah Bank Indonesia melakukan intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tepat untuk menjaga stabilitas jangka pendek.

Namun, ia menegaskan, penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan intervensi moneter.

Baca Juga  Stockpile Batu Bara dalam Zona Pertanian, Ancaman Ketahanan Pangan Presiden Prabowo di Jambi

Indonesia harus memperkuat sumber-sumber devisa yang berkelanjutan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, percepatan hilirisasi industri, penguatan sektor pariwisata, serta menarik investasi yang mampu menghasilkan devisa.

“Intervensi Bank Indonesia penting untuk meredam gejolak pasar. Tetapi pelemahan rupiah saat ini harus dibaca sebagai alarm agar Indonesia memperkuat mesin penghasil devisa. Semakin kuat struktur ekonomi dan semakin besar kemampuan menghasilkan devisa, semakin tangguh pula rupiah menghadapi tekanan global,” tegas Noviardi.

Ia optimis stabilitas rupiah dapat kembali terjaga apabila pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga konsistensi kebijakan, memperkuat kepercayaan pasar, serta mempercepat transformasi ekonomi yang berorientasi pada peningkatan daya saing dan ketahanan eksternal nasional.

Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini dapat menjadi momentum perbaikan menuju fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. ***

 

Share :

Baca Juga

Reportase

Kepala BI Jambi Ungkapkan Penyebab Rendahnya Harga Batu Bara

Reportase

BI Rate Naik, Kepercayaan Pasar Terjaga

Reportase

Al Haris Perintahkan Berantas Geng Motor, Tidak Boleh Mundur

Reportase

APRI Butuh Dukungan Pemkot Jambi, Dampak Nyatanya Sudah Dirasakan

Reportase

Kabut Asap Makin Parah, Siswa-Siswi SMA/SMK/SLB Belajar Daring

Reportase

Ngopi Bersama Jurnalis, Maulana Beberkan Capaian Sejumlah Program Prioritas

Reportase

AKBP Demo AKBP, Seruuu…

Ekobis

Iba Lihat Nasib Tenaga Honorer, Usman Ermulan Imbau Al Haris Cepat Bayar Gaji Mereka