Home / Reportase

Selasa, 21 April 2026 - 20:12 WIB

Merangin Antara Hijau Pertumbuhan dan Kelabu PETI

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM – Secara ekonomi daerah pascapandemi, Kabupaten Merangin menunjukkan performa yang cukup impresif dengan pertumbuhan yang melampaui rata-rata nasional dan provinsi.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Merangin tercatat sebesar 5,13 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional 5,11 persen dan Provinsi Jambi 4,93 persen.

Struktur ekonomi yang ditopang kuat oleh sektor pertanian berhasil menjaga stabilitas, bahkan mendorong perbaikan sejumlah indikator kesejahteraan.

Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan tantangan serius yang berpotensi menggerus fondasi ekonomi jangka panjang jika tidak segera diantisipasi secara komprehensif.

Pengamat ekonomi , Noviardi Ferzi menilai, capaian ekonomi Merangin sepanjang 2025 patut diapresiasi, namun menyimpan ancaman laten yang tidak boleh diabaikan.

Ia menyebut, pertumbuhan tersebut ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 5,55 persen, meningkat signifikan dari 2,77 persen tahun sebelumnya, serta berkontribusi sekitar 47,33 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sementara itu, sektor perdagangan menyusul dengan kontribusi 13,24 persen, dan sektor akomodasi serta makan minum justru mengalami perlambatan dari 7,78 persen menjadi 3,24 persen.

Baca Juga  Pertumbuhan Tak Merata, Kelas Menengah Mulai Hilang

Menurut Noviardi, dominasi sektor primer mencerminkan struktur ekonomi yang kuat namun belum terdiversifikasi.

“Ini kekuatan sekaligus kerentanan. Ketika sektor ini tumbuh tinggi, itu kabar baik. Tapi ketergantungan berlebihan tanpa pengelolaan berkelanjutan bisa menjadi bom waktu,” ujarnya.

Dari sisi fiskal, kinerja daerah juga menunjukkan tren positif. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp161,7 miliar atau 104,64 persen dari target, dengan total pendapatan daerah sebesar Rp1,495 triliun atau 98,37 persen dari target.

PDRB per kapita pada 2024 tercatat sekitar Rp68,22 juta. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat tipis menjadi 73,41 poin dari 72,65 poin pada 2024.

Perbaikan juga terlihat pada distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Indeks Gini menunjukkan tren menurun dari kisaran 0,34–0,36 pada periode 2020–2022, berada di level 0,36 pada 2023 (Maret 0,343), lalu turun menjadi 0,321 pada Maret 2024 dan kembali membaik ke 0,32 pada semester I 2025.

Baca Juga  Mandi di Sungai Nalo Tantan Seorang Nenek Hilang Terseret Arus

Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan menurun dari 9,45 persen menjadi 8,27 persen, didukung pertumbuhan ekonomi semester I 2025 sebesar 5,42 persen.

Namun demikian, Noviardi mengingatkan, capaian tersebut berada dalam bayang-bayang krisis lingkungan akibat maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang kini telah memasuki kondisi darurat.

Aktivitas ilegal ini tercatat merusak sekitar 3.920 hektare lahan di 189 titik yang tersebar di 12 kecamatan.

“Kerusakan ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ancaman langsung terhadap ekonomi. Pencemaran sungai Batang Hari dan Masumai akibat merkuri dan sedimen telah mengganggu kebutuhan dasar masyarakat seperti air minum, MCK, irigasi, hingga ekosistem perikanan,” tegasnya.

Noviardi a menambahkan, dampak PETI juga merusak tanah pertanian yang menjadi penopang utama ekonomi daerah, serta menimbulkan kerugian negara yang diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun untuk wilayah Jambi secara keseluruhan.

Baca Juga  Saat Siswa SMA Negeri 6 Kerinci Tuntut Perubahan

Selain itu, konflik sosial antarpenambang dan penurunan kualitas hidup masyarakat menjadi konsekuensi lanjutan yang tidak bisa diabaikan.

Noviardi menilai, langkah pemerintah daerah yang mendorong pembentukan Wilayah Tambang Rakyat (WTR) di sembilan desa perlu dikawal secara ketat.

“Legalitas harus dibarengi pengawasan. Jika tidak, ini hanya akan memindahkan masalah. WTR harus berbasis pada prinsip keberlanjutan dan reklamasi,” ujarnya.

Penanganan PETI harus dilakukan secara terpadu melalui penegakan hukum, pengawasan alat berat seperti ekskavator, serta percepatan pemulihan lingkungan. Di sisi lain, diversifikasi ekonomi menjadi keharusan agar ketergantungan terhadap sektor primer dapat dikurangi.

“Merangin memiliki capaian ekonomi yang baik hari ini, tetapi tanpa pengelolaan lingkungan yang serius, pertumbuhan tersebut tidak akan berkelanjutan. Keseimbangan antara ekonomi dan ekologi adalah kunci utama,” pungkasnya. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

Elite Textile & Tailor Diresmikan, Kota Jambi Bisa Jadi Pusat Mode Sumatra

Reportase

Budi Setiawan Ajak Dukung Mat Sanusi Majukan Olahraga

Reportase

Zuwanda Harapkan Maskun Sopwan Mampu Bawa Angin Segar Bagi Pelaku Industri Media Siber di Jambi

Reportase

Elpisina Serap Aspirasi Warga Kasang Pudak, Soroti Gaya Hidup Konsumtif dan Maraknya Pekat

Reportase

Masjid Bersejarah Jadi Saksi Komitmen Pemerintah Bangun Jambi

Ekobis

Jelang Bulan Puasa Harga Beras, Cabai dan Bawang Naik

Reportase

Bayi 8 Bulan Korban TPPO Diselamatkan dan Diserahkan Kembali ke Ibunya

Reportase

PEP Jambi Field Produksi 1.243 BOPD Lewat Sumur PPS-020 Puspa Asri