Home / Opini

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:46 WIB

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah Sakit Khusus

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

Oleh: Bahren Nurdin | Akademisi UIN STS Jambi dan Pengamat Sosial

DULU, di kampung saya, orang-orang sering bercerita tentang racun godam. Tak ada yang benar-benar tahu bahan dasarnya, tetapi konon siapa pun yang terkena akan muntah darah, perlahan melemah, lalu mati—kadang seketika. Cerita itu hidup sebagai peringatan: bahwa racun bisa datang tanpa terlihat, namun dampaknya nyata dan mematikan.

Memasuki zaman modern, kita mengenal racun yang lebih ilmiah—seperti sianida dan zat kimia lainnya. Kasus-kasus pembunuhan dengan racun bahkan menjadi berita besar. Ada korban, ada pelaku, ada proses hukum. Racun-racun ini jelas bentuknya, jelas bahayanya, dan jelas pula cara menghindarinya.

Namun hari ini, di era digital, muncul jenis ‘racun’ baru yang jauh lebih halus, nyaris tak terasa, tetapi dampaknya tidak kalah berbahaya: media sosial.

Racun digital ini tidak membunuh secara instan. Ia bekerja perlahan, merasuk ke dalam kebiasaan, membentuk ketergantungan, dan pada akhirnya melumpuhkan produktivitas serta kualitas hidup. Siapa saja bisa menjadi korban—anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun. Dari rakyat biasa hingga pejabat, dari santri hingga ulama, tak ada yang benar-benar kebal.

Baca Juga  KPU Kota Jambi Buka Layanan Pindah Memilih

Gejalanya tampak jelas. Orang yang “teracuni” menjadi lalai, kecanduan, dan kehilangan fokus terhadap tanggung jawabnya. Anak-anak kehilangan minat belajar, lebih tertarik pada layar daripada buku. Aktivitas motorik menurun drastis. Mereka tidak lagi bermain, bergerak, atau berinteraksi secara sehat.

Lebih jauh lagi, konsumsi konten digital—terutama video pendek—telah membentuk pola pikir instan. Otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi perubahan cara berpikir.

Dampak psikologisnya pun tidak kalah serius. Media sosial seringkali menjadi ajang perbandingan hidup. Orang melihat kesuksesan orang lain tanpa memahami proses di baliknya. Akibatnya muncul rasa tidak cukup, stres, iri, bahkan dengki. Penyakit hati ini menyebar tanpa disadari, menggerogoti kesehatan mental masyarakat.

Bayangkan jika kondisi ini terus berlanjut. Negeri ini bisa dipenuhi oleh generasi yang “keracunan” gawai dan media sosial. Hari-hari mereka dihabiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan. Produktivitas menurun, kreativitas melemah, dan daya saing bangsa ikut tergerus.

Baca Juga  Firdaus Ditangkap Setelah Transaksi di Sungai

Lebih mengkhawatirkan lagi, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Aparatur negara yang kecanduan media sosial bisa kehilangan fokus dalam bekerja. Ibu rumah tangga lalai mengurus keluarga. Para ayah kehilangan semangat mencari nafkah. Siswa berhenti belajar, guru dan dosen kehilangan dedikasi mengajar.

Jika ini terjadi secara masif, maka bukan hanya individu yang rusak, tetapi sistem sosial secara keseluruhan.
Inilah racun digital—tidak berwarna, tidak berbau, tetapi perlahan mematikan. Ia tidak menyerang tubuh secara fisik, melainkan pikiran, kebiasaan, dan karakter manusia.

Maka, kesadaran menjadi kunci. Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari teknologi, tetapi kita harus mampu mengendalikannya. Menggunakan media sosial secara bijak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun, bagi mereka yang sudah terlanjur “terminum” racun ini, pendekatan personal saja tidak cukup. Negara harus hadir secara serius. Pemerintah perlu mendirikan pusat-pusat pemulihan—semacam “rumah sakit digital”—yang secara khusus menangani kecanduan gawai dan media sosial. Di sana tersedia tenaga profesional, mulai dari dokter, psikolog, hingga konselor yang memahami dampak neurologis dan mental dari paparan digital berlebihan.

Baca Juga  Al Haris Dorong OPD Fokus Hasil Nyata

Selain itu, perlu ada pengembangan “obat” dalam dua bentuk: kimia dan mental. Obat kimia dapat berupa terapi medis untuk kasus kecanduan berat yang telah memengaruhi fungsi otak. Sementara itu, “obat mental” berupa terapi perilaku, pendidikan literasi digital, serta pembentukan ulang kebiasaan hidup sehat. Ini bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus segera diwujudkan.

Racun digital tidak boleh lagi dianggap remeh. Tingkat bahayanya kini sudah setara dengan narkoba—bahkan dalam beberapa aspek bisa lebih luas dampaknya karena menyerang semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Jika negara lambat bertindak, korban akan terus berjatuhan secara perlahan. Dan pada akhirnya, bukan hanya individu yang runtuh, tetapi juga masa depan bangsa yang terancam bangkrut. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Mencari Wakil Rakyat Bernurani dan Berparadigma Etis menuju Kursi Parlemen

Opini

Mendiagnosis Wajah Kota Jambi: Preskripsi ‘The Doctor’ Menuju 625 Tahun Tanah Pilih Pusako Batuah

Opini

Tren Kenaikan Penyakit Menular dan Target Zero Growth 2030 di Provinsi Jambi

Opini

PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA: Kunci Sukses Lawan Narkoba
Budi Setiawan

Opini

Saya Budi, Terima Kasih Warga Jambi, Terima Kasih Airlangga

Opini

Membaca Kedalaman “Trust” Bank Jambi Melalui Lensa Resiliensi Ekonomi, Mengapa Kita Masih Harus Percaya?

Opini

Benarkah Jambi Sukses Menyerap Tenaga Kerja ?

Opini

Pemimpin Muda Jambi “Punyo Selero”