Home / Opini

Jumat, 24 Oktober 2025 - 08:43 WIB

Kesadaran Moral di Balik Anugerah Kebudayaan, Renungan Tentang Kebohongan dan Korupsi

Oleh : Dr. Noviardi Ferzi | Pengamat Sosial

KEBERHASILAN Provinsi Jambi meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 menjadi momentum penting bagi daerah yang kaya akan tradisi, sejarah, dan kearifan lokal. Dalam pidatonya, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa kebudayaan akan menjadi poros pembangunan daerah, menggambarkan keyakinan bahwa nilai-nilai luhur masyarakat Jambi dapat menjadi panduan arah pembangunan di tengah arus modernisasi. Namun, di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan mendasar: benarkah masyarakat yang berbudaya otomatis terbebas dari kebohongan dan korupsi?

Kebudayaan memang sarat dengan nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab sosial. Di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, adat telah lama menjadi panduan hidup dengan falsafah adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Namun dalam kenyataan sosial, nilai luhur itu seringkali hanya berhenti di tataran simbolik. Tidak sedikit komunitas yang menjunjung tinggi adat istiadat, tetapi masih terjebak dalam praktik manipulasi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan, meskipun penting sebagai fondasi moral, tidak otomatis menjamin perilaku bersih dan bebas korupsi.

Baca Juga  Pelabuhan Peti Kemas, Butuh Dukungan Produksi dan Hilirisasi, Tanpa itu Hanya Mimpi

Korupsi dan kebohongan sering kali lahir dari sistem yang lemah dan birokrasi yang tertutup. Persoalan ini lebih bersifat struktural ketimbang moral semata. Dalam konteks pembangunan daerah, menjadikan kebudayaan sebagai poros pembangunan tanpa memperkuat tata kelola dan transparansi justru berisiko menjadikan kebudayaan sekadar retorika politik. Nilai-nilai budaya harus hadir dalam sistem — dalam pengelolaan anggaran yang terbuka, pengawasan publik yang kuat, dan keberanian menindak pelanggaran tanpa pandang bulu.

Baca Juga  Lebaran 2026: Dari Kota ke Desa, Likuiditas Bergerak

Di sisi lain, kebudayaan kerap dipolitisasi. Ia bisa menjadi alat legitimasi atau proyek pencitraan bagi kekuasaan. Festival, penghargaan, atau program berbasis budaya sering kali digunakan untuk membangun citra moral pemerintah, sementara di belakang layar muncul praktik penyimpangan. Tidak jarang pula dana kebudayaan menjadi sumber proyek dan hibah yang rawan diselewengkan. Dalam kondisi seperti itu, berbudaya bukan lagi soal kejujuran, melainkan strategi mempertahankan reputasi.

Kebudayaan yang sejati justru harus diuji dalam tata kelola yang bersih. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap program berbasis budaya memiliki mekanisme audit, transparansi anggaran, dan partisipasi masyarakat. Masyarakat adat, seniman, akademisi, dan komunitas lokal mesti dilibatkan agar kebudayaan tidak kehilangan maknanya. Integritas harus menjadi jiwa dari kebudayaan itu sendiri, bukan sekadar pernak-pernik dalam perayaan.

Baca Juga  Refleksi Tak Harus Menunggu Akhir Tahun, Sudut Pandang Manajemen ?

Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 adalah capaian yang patut dibanggakan, namun lebih penting lagi menjadikannya cermin untuk refleksi. Jambi tidak hanya harus dikenal karena kekayaan budayanya, tetapi juga karena kejujuran dan akuntabilitas dalam pemerintahan. Sebab, hakikat berbudaya bukan hanya menjaga tarian, bahasa, dan adat, melainkan menegakkan kebenaran, menolak kebohongan, dan memerangi korupsi dalam setiap langkah pembangunan.

Berbudaya sejati berarti hidup dalam nilai moral yang diterapkan dalam tindakan — di ruang publik, di kantor pemerintahan, dan di hati nurani. Penghargaan boleh menjadi simbol, tetapi kebersihan moral dan kejujuran adalah warisan budaya yang paling berharga bagi generasi Jambi masa depan. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Aksi Ilegal Mafia Batu Bara Jambi

Opini

Ketika Prosedur Dilanggar, Negara Hukum Kehilangan Wibawa

Opini

Geopolitik Minyak Venezuela dan Ekonomi Indonesia

Opini

Cerita Ayam Geprek di Tengah Inflasi Jambi

Opini

Budi dan Fadhil Bertemu ?…

Opini

Penyebab Banjir di Kerinci dan Sungai Penuh, dari Fenomena El Nino, Sedimentasi hingga Semrawutnya Pengelolaan Sampah

Opini

BUNUH DIRI: Perlu Penguatan Sosial dan Mental

Opini

Mengawal Dolar bagi Dunia Usaha