Home / Opini

Minggu, 21 Desember 2025 - 18:30 WIB

Penghambat Investasi, Modus Dukungan Menjadi Transaksi

Oleh : Noviardi Ferzi | Pengamat Ekonomi

INVESTASI yang baik adalah investasi yang menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar menancapkan modal lalu meninggalkan persoalan. Investasi yang sehat membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta mematuhi aturan lingkungan dan sosial. Dalam kerangka ini, investasi harus menjadi alat kesejahteraan, bukan bencana sosial maupun ekologis.

Namun dalam praktiknya, investasi sering terhambat bukan semata oleh regulasi atau birokrasi, melainkan oleh perilaku sebagian oknum yang mengatasnamakan masyarakat. Hambatan ini kerap muncul dalam bentuk yang halus, bahkan terlihat “sah”, tetapi sesungguhnya bersifat transaksional dan merusak iklim usaha.

Contoh pertama dapat dilihat ketika sebuah investor hendak masuk ke suatu daerah dan sudah mengantongi izin resmi dari pemerintah. Alih-alih disambut dengan dialog konstruktif, investor justru “diwajibkan” membiayai seminar, diskusi publik, atau kegiatan deklarasi dukungan.

Baca Juga  Soal Jalan Khusus Batu Bara, Publik Hanya Mengkritik, Bukan Beragenda

Biaya ini tidak pernah tercantum dalam regulasi apa pun, tetapi diposisikan seolah-olah sebagai syarat sosial agar investasi bisa berjalan aman. Jika tidak dipenuhi, ancamannya bukan selalu terang-terangan, melainkan berupa tekanan opini, penolakan, atau gangguan nonformal di lapangan.

Contoh kedua adalah praktik “dukungan berbayar”. Ada kelompok yang menyatakan diri mendukung investasi, tetapi dukungan itu bersyarat, spanduk harus dicetak oleh investor, konsumsi rapat harus ditanggung investor, bahkan honor kehadiran harus disediakan.

Dukungan semacam ini tidak lahir dari keyakinan atas manfaat investasi, melainkan dari motif ekonomi sesaat. Ketika aliran dana berhenti, dukungan pun bisa berubah menjadi penolakan.

Di sisi lain, sikap kritis yang benar justru tidak membutuhkan biaya. Misalnya, masyarakat mempertanyakan AMDAL sebuah proyek tambang atau industri.

Baca Juga  Sengkarut Hitam di Koto Boyo, Menyingkap Modus Mafia Batubara Jambi

Mereka meminta keterbukaan data, menggelar diskusi terbuka secara mandiri, menyampaikan aspirasi ke DPRD, atau menggugat melalui jalur hukum jika ada pelanggaran. Kritik seperti ini sah, bermartabat, dan justru membantu investor yang serius untuk memperbaiki tata kelola usahanya. Tidak ada permintaan uang, tidak ada negosiasi di balik layar.

Perbedaan ini menjadi sangat jelas ketika dibandingkan dampaknya. Kritik yang tulus mendorong investasi menjadi lebih berkualitas. Sebaliknya, praktik pembebanan biaya nonformal menciptakan ekonomi biaya tinggi. Investor akan memasukkan biaya “sosial” ini ke dalam perhitungan bisnis: mengurangi serapan tenaga kerja, menekan upah, atau bahkan membatalkan investasi. Dalam jangka panjang, daerah kehilangan peluang kerja, sementara masyarakat hanya memperoleh manfaat semu yang habis dalam waktu singkat.

Baca Juga  Benarkah Jambi Sukses Menyerap Tenaga Kerja ?

Lebih berbahaya lagi, budaya dukungan berbayar melahirkan preseden buruk. Investor berikutnya akan datang dengan mental “siap bayar”, bukan “siap patuh aturan”. Ketika uang menjadi alat meredam kritik, maka yang tersisa hanyalah relasi kuasa yang tidak sehat antara modal dan masyarakat. Lingkungan rusak, konflik sosial meningkat, dan kepercayaan publik runtuh.

Karena itu, membangun iklim investasi yang sehat menuntut keberanian untuk berkata tegas: kritik tidak untuk diperjualbelikan, dan dukungan bukan untuk ditagih. Masyarakat harus memilih berada pada posisi terhormat sebagai pengawas kepentingan publik, bukan sebagai pihak yang membebani investor demi keuntungan sesaat. Jika tidak, investasi akan terus dianggap sebagai ancaman—padahal yang sesungguhnya menjadi bencana adalah praktik transaksional yang mengatasnamakan dukungan itu sendiri. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Membangun Empati dan Kepedulian di Era Digital

Opini

Diza Aljosha Hazrin Memuliakan Kembali Nama Besar Saudagar Nan Dermawan, Nurdin Hamzah yang Melegenda

Opini

Ketika Teknologi Melaju, Kepemimpinan Menjadi Penentu

Opini

Narkoba Menghancurkan Finansial Keluarga

Opini

Cerita Ayam Geprek di Tengah Inflasi Jambi

Opini

Bertahan di Tengah Guncangan: Kisah Mahasiswa Indonesia di Istanbul Pasca Gempa 6,2 Magnitudo

Opini

GARUDA DI DADAKU: Menjadi Saksi Sejarah di Negeri Kanguru

Opini

PILKADA 2024: Saatnya Berpolitik Tanpa Intrik