Oleh: Ery Trisnanda | Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
SETIAP hari, terutama pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari, ruas jalan Mendalo di Kabupaten Muaro Jambi dipadati oleh berbagai aktivitas masyarakat. Ribuan mahasiswa, pelajar, pekerja, aparatur sipil negara, hingga warga yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari menggunakan jalan ini sebagai jalur utama mobilitas.
Sebagai akses penting menuju kawasan pendidikan, termasuk Universitas Jambi dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, jalan Mendalo memiliki peran strategis dalam menunjang aktivitas masyarakat. Namun, di balik perannya yang vital, kawasan ini kini menghadapi persoalan yang semakin mengkhawatirkan, yakni tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang tetap melintas pada saat volume lalu lintas sedang padat.
Kehadiran truk-truk besar di tengah kepadatan kendaraan roda dua dan roda empat tidak hanya menimbulkan kemacetan, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna jalan. Akibatnya, jalan yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat justru berubah menjadi ruang yang penuh ancaman dan kekhawatiran.
Kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan atau sekadar asumsi semata. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan besar terus terjadi di kawasan Mendalo.
Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan keselamatan di ruas jalan ini semakin mendesak untuk mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait. Salah satu kasus yang menyita perhatian publik terjadi pada April 2026, ketika seorang pelajar meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan dengan sebuah truk di depan kawasan kampus Universitas Jambi.
Tragedi tersebut menambah daftar panjang kecelakaan yang terjadi di jalur Mendalo dan menjadi pengingat bahwa kelompok pengguna jalan yang paling rentan, khususnya pengendara sepeda motor, masih menghadapi risiko tinggi setiap kali melintas di kawasan tersebut.
Fenomena ini menjadi semakin memprihatinkan karena Mendalo bukan sekadar jalur lalu lintas biasa. Kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas pendidikan, ekonomi, dan permukiman yang setiap harinya dipadati kendaraan roda dua. Namun di saat yang sama, truk-truk besar, termasuk kendaraan angkutan barang dan batu bara, masih melintas dengan intensitas tinggi. Akibatnya, kemacetan, polusi, dan potensi kecelakaan terus meningkat.
Berdasarkan data Satlantas Polres Muaro Jambi, tercatat 91 kecelakaan lalu lintas di jalur Mendalo sepanjang 2024 hingga April 2026 dengan 12 korban meninggal dunia.
Masalah ini tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknis lalu lintas. Dalam perspektif kebijakan publik, keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab utama pemerintah. Teori good governance menekankan bahwa pemerintah harus mampu menjamin pelayanan publik yang aman, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ketika sebuah ruas jalan yang menjadi pusat aktivitas publik terus menelan korban, maka yang dipertanyakan bukan hanya perilaku pengguna jalan, melainkan juga efektivitas kebijakan yang diterapkan.
Selama ini, solusi yang sering muncul adalah imbauan agar masyarakat lebih berhati-hati saat berkendara. Padahal, pendekatan tersebut belum menyentuh akar persoalan. Risiko kecelakaan tidak hanya dipengaruhi faktor manusia, tetapi juga desain kebijakan dan tata kelola transportasi.
Truk bertonase besar memiliki titik buta yang luas, jarak pengereman yang lebih panjang, serta membutuhkan ruang gerak lebih besar dibanding kendaraan biasa. Ketika kendaraan seperti ini bercampur dengan ribuan sepeda motor pada jam masuk dan pulang kerja, risiko kecelakaan otomatis meningkat.
Tidak mengherankan jika berbagai insiden terus berulang. Pada Februari 2026, kecelakaan maut yang melibatkan truk box dan sepeda motor terjadi di Simpang Mendalo dan menyebabkan korban meninggal dunia.
Pada April 2026, seorang pengendara motor kembali tewas setelah menabrak truk yang mogok di badan jalan kawasan Mendalo. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan kendaraan besar di ruas jalan ini bukanlah kejadian insidental, melainkan pola yang terus berulang.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan pemerintahan yang responsif. Seorang pemimpin daerah tidak cukup hanya hadir setelah kecelakaan terjadi atau ketika keluhan masyarakat viral di media sosial. Kepemimpinan yang efektif justru ditunjukkan melalui kemampuan membaca risiko sebelum korban terus berjatuhan.
Dalam teori kepemimpinan transformasional, pemimpin dituntut mampu menciptakan perubahan melalui visi dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait sebenarnya memiliki beberapa pilihan kebijakan yang dapat segera diterapkan. Pertama, membatasi jam operasional kendaraan bertonase besar agar tidak melintas pada jam sibuk pagi dan sore.
Kedua, mempercepat pembangunan jalur alternatif atau jalan khusus angkutan berat sehingga tidak bercampur dengan kendaraan masyarakat. Ketiga, memperkuat pengawasan terhadap kendaraan yang parkir sembarangan atau mogok di badan jalan. Keempat, meningkatkan fasilitas keselamatan seperti lampu penerangan, rambu lalu lintas, dan marka jalan yang lebih jelas di titik rawan kecelakaan.
Pembangunan jalur dua Mendalo – Pijoan yang tengah didorong pemerintah merupakan langkah positif untuk mengatasi kemacetan dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan. Namun, mengingat proses pembangunan membutuhkan waktu, diperlukan langkah cepat melalui pembatasan operasional kendaraan bertonase besar pada jam-jam sibuk.
Upaya ini perlu didukung oleh sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, dan masyarakat agar keselamatan dapat terjaga tanpa menghambat aktivitas ekonomi.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari banyaknya pembangunan yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya melindungi masyarakat. Dengan kerja sama dan komitmen seluruh pihak, Jalan Mendalo dapat menjadi jalur yang lebih aman, nyaman, dan mendukung aktivitas pendidikan, pekerjaan, serta perekonomian masyarakat secara berkelanjutan. ***




















