Home / Reportase

Selasa, 29 September 2026 - 22:44 WIB

Pemadaman Belum Usai, Jaga Gambut Tak Kembali Terbakar

Upaya pendinginan bara api setelah kebakaran lahan di Desa Rantau Panjang, Kumpeh, Muaro Jambi | dok polda

Upaya pendinginan bara api setelah kebakaran lahan di Desa Rantau Panjang, Kumpeh, Muaro Jambi | dok polda

SUARA mesin pompa air kembali memecah pagi di Desa Rantau Panjang, Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Selasa, 29 September 2026. Asap memang tidak lagi tebal seperti beberapa hari sebelumnya. Kobaran api juga mulai melemah.

Namun, bagi tim gabungan satuan tugas kebakaran hutan dan lahan (satgas karhutla), pekerjaan belum selesai. Justru ketika api tampak mereda, fase paling penting sedang berlangsung. Proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh.

Setiap jengkal lahan harus dipastikan benar-benar bebas dari bara yang masih bersembunyi di bawah permukaan tanah. Sejak pukul 10.00 WIB, personel gabungan kembali menyisir kawasan yang beberapa hari terakhir dilahap api.

Kebakaran di lokasi itu terjadi sejak Sabtu, 26 September 2026. Selama tiga hari api menghanguskan hamparan lahan gambut seluas sekitar 20 hektare. Bagi petugas di lapangan, musuh terbesar bukan hanya kobaran api yang terlihat. Ancaman yang lebih sulit justru berada di bawah permukaan.

Gambut memiliki karakteristik berbeda dengan lahan biasa. Bara dapat bertahan lama di dalam lapisan tanah. Dari atas terlihat padam, tapi di bawah masih menyimpan panas yang sewaktu-waktu dapat memicu kebakaran baru.

Karena itulah, operasi pendinginan menjadi pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan. Setiap titik yang pernah terbakar harus diperiksa. Setiap kepulan asap harus ditelusuri. Setiap area yang dicurigai masih menyimpan panas harus terus disiram.

Baca Juga  Hadirkan Hanan Attaki hingga dr. Aisah Dahlan, BI Jambi Semarakkan Siginjai Fest 2026

Di lokasi kebakaran, berbagai unsur bekerja bahu-membahu. Tidak ada sekat antara aparat, perusahaan, maupun masyarakat. Semuanya terfokus pada satu tujuan, memastikan api tidak kembali menyala.

Kapolsek Kumpeh Ilir, AKP Sunardi, bersama Bhabinkamtibmas Desa Rantau Panjang, Bripka Bambang, ikut dalam kegiatan tersebut. Mereka bergabung dengan personel Satgas Karhutla Polres Muaro Jambi, personel TNI, Regu Pemadam Kebakaran PT PHL, RPK PT AMK, RPK PT SJA, serta Masyarakat Peduli Api.

Pemandangan itu menjadi potret kerja kolaboratif yang selama ini menjadi kunci penanganan karhutla di Jambi. Ketika kebakaran terjadi, semua pihak bergerak menuju lokasi. Mereka membawa peralatan, tenaga, serta tanggung jawab yang sama besar untuk menyelamatkan lingkungan.

Untuk menjangkau area yang masih menyimpan bara, tim gabungan mengerahkan berbagai peralatan pendukung. Sedikitnya 5 unit mesin pompa air merek Honda, dan 9 unit mesin pompa air merek Robin digunakan untuk menyuplai air ke area terdampak.

Tim juga mengoperasikan 5 unit nozzle sunbut atau suntik gambut. Peralatan ini menjadi senjata penting dalam operasi pendinginan. Air disalurkan hingga ke lapisan dalam tanah gambut, untuk memadamkan sumber panas yang tidak terlihat dari permukaan.

Empat embung air dimanfaatkan sebagai sumber pasokan utama. Sementara 1 unit mesin air Fuso FP ikut digunakan, guna memperkuat distribusi air ke lokasi yang masih memerlukan penyiraman intensif.

Baca Juga  DPRD Provinsi Jambi Sepakati Tiga Ranperda

Di tengah operasi yang berlangsung, petugas harus menghadapi berbagai tantangan. Sebagian area memiliki akses sulit. Cuaca panas mempercepat pengeringan vegetasi. Pada saat yang sama, bara di dalam tanah dapat berpindah secara perlahan tanpa terlihat.

Penyiraman tidak bisa dilakukan sekali lalu ditinggalkan. Lokasi harus terus dipantau. Petugas berulang kali memeriksa titik yang sebelumnya sudah dipadamkan, untuk memastikan tidak ada asap baru yang muncul.

Kapolda Jambi, Irjen Pol Krisno Halomoan Siregar, melalui Kabid Humas Kombes Pol Erlan Munaji menegaskan, upaya penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman awal. Polri bersama TNI, pemerintah, perusahaan dan masyarakat terus bersinergi dalam penanganan karhutla.

“Tidak hanya melakukan pemadaman, tapi juga memastikan proses pendinginan dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah api kembali muncul,” ujar Erlan.

Pernyataan itu menggambarkan tantangan utama dalam penanganan kebakaran lahan gambut. Api yang telah dipadamkan belum tentu benar-benar hilang. Tanpa pendinginan optimal, kebakaran berpotensi muncul kembali, dan membesar hanya dalam hitungan jam atau hari.

Erlan menjelaskan, karakteristik lahan gambut menuntut penanganan berkelanjutan. Bara yang tertinggal di bawah permukaan dapat terus menyala, meski tidak terlihat secara kasat mata.

“Karena lokasi merupakan lahan gambut, proses pendinginan menjadi bagian penting penanganan. Personel di lapangan terus melakukan penyiraman dan pemantauan terhadap titik-titik yang masih berpotensi menimbulkan asap maupun api,” jelasnya.

Baca Juga  Korem 042/Gapu Gelar Bakti Kesehatan Semarakkan HUT 80 TNI

Sore hari menjadi waktu menentukan. Ketika suhu mulai berubah dan angin bergerak di atas hamparan lahan, petugas terus mengawasi kemungkinan kemunculan asap baru. Setiap perubahan sekecil apapun menjadi perhatian.

Dalam situasi seperti itu, kehadiran masyarakat juga memiliki peran penting. Warga yang tinggal di sekitar lokasi sering menjadi pihak pertama melihat tanda-tanda kebakaran. Informasi masyarakat dapat mempercepat respons petugas, sebelum api berkembang menjadi ancaman lebih besar.

Kapolda Jambi memberi apresiasi terhadap keterlibatan seluruh unsur yang selama ini bekerja bersama dalam penanganan karhutla di Desa Rantau Panjang. Sinergi dan kepedulian seluruh pihak sangat diperlukan.

“Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah terjadinya karhutla, tidak melakukan pembakaran lahan, dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin,” ujar Erlan.

Bagi tim di lapangan, keberhasilan operasi ini tidak hanya ditandai dengan padamnya api di atas permukaan. Yang lebih penting, memastikan tidak ada lagi panas tersimpan di dalam tanah gambut. Satu bara yang terlewat dapat menjadi awal bencana berikutnya.

Karena itu, operasi pendinginan terus dilaksanakan. Penyiraman dilakukan berulang kali. Pemantauan berlangsung tanpa henti. Setiap titik diperiksa dengan cermat. Perjuangan berakhir ketika lahan kembali dingin, asap menghilang, dan tidak ada lagi bara tersisa di perut gambut. | dod

Share :

Baca Juga

Nasional

Wakil Wali Kota Jambi Perjuangkan Pendidikan Kota Jambi di Hadapan Mendikdasmen

Reportase

Korupsi Ganti Rugi Lahan Ujung Jabung Diburu

Politik

Romi – Sudirman Berpeluang Besar Menang Pilgub Jambi, Ini Alasannya…

Reportase

Polda Jambi Jebloskan ‘Kak Adhi’ ke Sel Tahanan, Terkait Korupsi Dana Pendidikan

Reportase

OJK Terbitkan Peraturan Derivatif Keuangan

Reportase

Danrem Garuda Putih Sebut Job Fair Polda Jambi Dongkrak Kesejahteraan Warga

Reportase

Wali Kota Jambi Tegaskan Manfaat BPJS Ketenagakerjaan Bagi “Kampung Bahagia”

Reportase

SIS Pertemukan Pemilik Sepeda Motor Suzuki di Sentul