Home / Reportase

Senin, 7 September 2026 - 10:12 WIB

Kelas Diliburkan, Pemkab Muaro Jambi Pilih Selamatkan Anak-Anak

Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi, termasuk Kabupaten Muaro Jambi | dki-mj

Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi, termasuk Kabupaten Muaro Jambi | dki-mj

SUASANA sekolah di Kabupaten Muaro Jambi dipastikan berbeda selama tiga hari ke depan. Tidak ada keramaian siswa yang berbaris di halaman. Tidak terdengar riuh suara anak-anak yang berlari menuju ruang kelas.

Mulai Senin hingga Rabu, 7 sampai 9 September 2026, seluruh sekolah jenjang TK, PAUD, SD, dan SMP kembali menghentikan sementara pembelajaran tatap muka.

Keputusan itu diambil menyusul kualitas udara yang kembali memburuk. Angka indeks kualitas udara tercatat berada pada level 172 hingga 249 PM2,5.

Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah yang rentan terpapar polusi udara.

Merespons perkembangan tersebut, Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno (BBS), mengambil langkah cepat. Ia memutuskan mengalihkan seluruh aktivitas belajar mengajar ke sistem daring atau online selama tiga hari.

Kebijakan itu bukan sekadar perubahan metode belajar. Langkah tersebut menjadi upaya pencegahan untuk melindungi peserta didik dari risiko gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.

Baca Juga  Raden Najmi Ingatkan Panwascam Bekerja Profesional dan Netral

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi prioritas. Kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pembelajaran daring adalah langkah pencegahan paling rasional untuk sementara,” kata BBS.

Dengan kebijakan tersebut, siswa tetap mengikuti pelajaran dari rumah masing-masing. Aktivitas belajar tidak dihentikan, melainkan dipindahkan ke ruang digital melalui berbagai platform pembelajaran yang tersedia.

Sementara itu, para tenaga pendidik dan guru tetap diwajibkan menjalankan tugas dari sekolah masing-masing. Mereka diminta memastikan proses pembelajaran daring berjalan sebagaimana mestinya.

Selain itu, penggunaan masker juga diwajibkan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak polusi udara yang masih mengancam.

Peran kepala satuan pendidikan pun ikut diperkuat. Mereka diminta aktif memonitor pelaksanaan pembelajaran daring agar mutu pendidikan tetap terjaga.

Pemerintah daerah tidak ingin kebijakan darurat ini mengurangi efektivitas proses belajar mengajar yang sedang berjalan.

Baca Juga  BBS Ajak Emak-Emak Kompak Sejahterakan Masyarakat Muarojambi

Di sisi lain, perhatian juga diarahkan kepada lingkungan keluarga. Orang tua dan wali murid diminta mengambil peran lebih besar selama masa pembelajaran dari rumah.

Orang tua dan wali murid diharapkan mengawasi kondisi kesehatan anak, sekaligus membatasi aktivitas yang tidak mendesak di luar rumah.

“Kami meminta orang tua ikut mengawasi kondisi kesehatan anak. Untuk sementara, aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan sebaiknya dibatasi,” harap BBS.

Bagi banyak keluarga, imbauan tersebut menjadi pengingat, bahwa dampak polusi udara tidak hanya dirasakan saat berada di luar ruangan. Paparan partikel berbahaya juga dapat memengaruhi kesehatan, jika kewaspadaan mulai berkurang.

“Karena itu, pengawasan orang tua menjadi bagian penting dari upaya perlindungan yang sedang dijalankan pemerintah daerah,” ucap BBS.

Pemkab Muaro Jambi tidak bekerja sendiri. Ruang koordinasi dibuka dengan berbagai pihak, mulai dari Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan, pengawas sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga instansi terkait lainnya.

Baca Juga  Pemkab Muaro Jambi Dorong Akuntabilitas Pengadaan Barang dan Jasa Desa

Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan terintegrasi dan respons terhadap perkembangan situasi dapat dilakukan lebih cepat.

Buruknya kualitas udara memang bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, pemerintah daerah memilih mengambil langkah mitigasi sembari terus memantau perkembangan di lapangan.

“Evaluasi akan dilakukan secara berkala dengan melihat kondisi kualitas udara serta situasi kesehatan masyarakat,” jelas BBS.

Nasib pembelajaran tatap muka setelah 9 September nantinya akan sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara.

Jika kondisi membaik, aktivitas sekolah dapat kembali berjalan normal. Namun jika situasi masih mengkhawatirkan, berbagai opsi penanganan akan kembali dipertimbangkan.

Bagi pemerintah daerah, keselamatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan utama di atas segalanya. Ruang kelas bisa menunggu untuk kembali ramai, tapi kesehatan anak-anak tidak boleh dipertaruhkan.

“Kita tidak ingin mengambil risiko terhadap kesehatan peserta didik,” ungkap BBS. | dod

Share :

Baca Juga

Reportase

Warga Terminal Keluhkan Sulitnya BBM dan Kemacetan Lalu Lintas

Reportase

PEP Jambi Semakin Perkuat Pengamanan Jalur Pipa, Menjaga Pasokan Energi Nasional

Reportase

Kasus Pembunuhan Imam Ardiansyah Tak Kunjung Terungkap

Reportase

Empat Relawan PKS Jambi Bantu Penyaluran Bantuan Korban Bencana Sumatra

Reportase

Optimalkan PI 10% dan PAD Stagnan Alasan DPRD Provinsi Jambi Bentuk Pansus

Reportase

Warsono Mohon Dukungan Polda Jambi Amankan Penukaran Uang Baru Ramadan Nanti

Reportase

DPRD Provinsi Jambi Desak Penggunaan Jalan Khusus Batu Bara  

Reportase

Al Haris Beberkan Polemik Penanganan Dunia Usaha Batu Bara