Home / Reportase

Rabu, 24 Januari 2024 - 15:05 WIB

Jangan Mau Duitnya Saja, Pemerintah Pusat Harus Bangun Prasarana Angkutan Batu Bara di Jambi

Anggota DPRD Provinsi Jambi, Kemas Alfaribi

JAMBIBRO.COM – Aksi unjuk rasa sopir angkutan batu bara beberapa waktu lalu yang berujung anarkis, ditanggapi anggota DPRD Provinsi Jambi, Kemas Alfarabi.

Anggota Komisi I itu menilai pemerintah pusat kurang perhatian pada infrastruktur di Provinsi Jambi. Itulah yang menjadi dalang semrawutnya angkutan batu bara.

Alfarabi menjelaskan, sejarah penambangan batu bara dimulai sejak pemerintahan kolonial Belanda, di Ombilin, Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 1868.

Tahun 1887 dibangun prasarana pengangkutan melalui jalur kereta api dari Sawahlunto menuju Padang Panjang, sepanjang 115 kilometer.

Baca Juga  Edi Purwanto Ingatkan Mahasiswa Jangan Sampai Terjebak Perkembangan Zaman

Setelah pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur, dilanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Padang Panjang melewati Lembah Anai ke Teluk Bayur pada 1891.

Berkaca dari sejarah itu, Alfarabi menilai, seharusnya pemerintah pusat memberi perhatian kepada Provinsi Jambi, dengan penyediaan infrastruktur jalur kereta api dan pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung.

“Seharusnya pemerintah pusat menyediakan infrastruktur jalur kereta api, dan bangun Pelabuhan Ujung Jabung. Keruwetan masalah angkutan batu bara di Jambi, sudah menelan banyak korban jiwa teratasi,” tegas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Baca Juga  Hafiz dan Ariansyah Pantau Perhitungan Suara di Muara Bulian

Alfarabi menambahkan, Indonesia merupakan negara berkembang, yang masih bergantung pada ekspor Sumber Daya Alam (SDA), khususnya pertambangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah ekspor batu bara mencapai 360 juta ton, dengan nilai produksi 705 triliun rupiah.

“Sektor batu bara memberi devisa 60 % dari keseluruhan sumber energi terbesar ke negara importir, seperti India, China, Jepang, Filipina, dan Malaysia,” paparnya.

Baca Juga  DPRD Provinsi Jambi Bantu Carikan Solusi Tuntutan Asosiasi Honorer

Batu bara masih menjadi primadona di Indonesia, yang digunakan untuk menghasilkan produk, seperti gas, bahan bakar industri, hidrogen, solar dan PLTG.

Namun, di Jambi, berbagai persoalan timbul. Dari 8.600 angkutan yang berasal dari 60 perusahaan tambang batu bara, melintasi 603 kilometer jalan nasional yang merugikan masyarakat Jambi.

“Diprediksi penambangan batu bara di Jambi akan berlangsung hingga 100 tahun kedepan. Solusinya, pemerintah pusat harus membangun prasarana transportasi angkutannya,” ujar Alfarabi. | DIA

Editor : Doddi Irawan

Share :

Baca Juga

Reportase

Polisi dan Tentara Kompak Tutup Ratusan Sumur Minyak Ilegal

Reportase

Asosiasi Pengacara Syariah Apresiasi Wali Kota Maulana

Reportase

Antisipasi Perpecahan, Elpisina Ingatkan Soal Kedewasaan Berpolitik

Reportase

BBS Apresiasi QRIS Cinta Bangga Paham Rupiah Temple Run 2025, Diikuti 1.000 Pelari

Reportase

Main Minyak, Sopir Ini Nekat Jadi Anggota TNI Gadungan

Reportase

Bawa Dua Kilo Sabu, Kurir Narkoba Asal Riau Diringkus di Merlung

Reportase

Rayakan HUT ke-10, SJB News Gelar Pertandingan Domino untuk Wartawan

Politik

Hati-Hati Pilih Wakil, Budi Setiawan Utamakan Kemajuan Kota Jambi