Home / Opini

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:08 WIB

Jangan Biarkan Mendalo Terus Terjebak Batu Bara

Muhammad Kelvin Alfarisi | Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Muhammad Kelvin Alfarisi | Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Oleh: Muhammad Kelvin Alfarisi | Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

SETIAP pagi dan sore, ribuan masyarakat yang melintasi kawasan Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi, harus bersabar menghadapi antrean panjang truk angkutan batu bara. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama menuju Kota Jambi berubah menjadi titik kemacetan, dipenuhi debu, suara bising kendaraan bertonase besar, serta meningkatnya risiko kecelakaan. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan terus menjadi keluhan masyarakat, khususnya mahasiswa, pekerja, pedagang, dan warga yang setiap hari menggunakan jalur tersebut.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan lalu lintas. Lebih dari itu, kemacetan akibat angkutan batu bara telah menjadi cerminan bagaimana kepemimpinan pemerintahan diuji dalam menghadapi konflik antara kepentingan ekonomi dan kepentingan publik. Di era digital yang menuntut pemerintahan cepat, responsif, dan berpihak kepada masyarakat, persoalan di Mendalo semestinya tidak lagi menjadi masalah yang terus berulang tanpa penyelesaian yang nyata.

Sektor pertambangan batu bara memang memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian daerah. Aktivitas tersebut menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan penerimaan daerah, dan menjadi salah satu penggerak ekonomi di Provinsi Jambi. Namun, pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat serta kualitas pelayanan publik. Ketika jalan umum didominasi kendaraan bertonase besar, masyarakat kehilangan hak atas akses transportasi yang aman, nyaman, dan lancar.

Baca Juga  Sembilan Fraksi DPRD Provinsi Jambi Soroti Proyek Multiyears, Jalan Khusus Batu Bara hingga Islamic Centre dan Stadion

Inilah mengapa persoalan angkutan batu bara di Mendalo perlu dipandang sebagai persoalan kepemimpinan pemerintahan. Seorang pemimpin daerah tidak hanya dituntut mampu membuat kebijakan, tetapi juga memastikan kebijakan tersebut benar-benar berjalan di lapangan. Kepemimpinan yang efektif terlihat dari keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun koordinasi antarlembaga, serta konsistensi dalam menegakkan aturan tanpa memandang kepentingan kelompok tertentu.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan terkait pengaturan operasional angkutan batu bara, mulai dari pembatasan jam melintas hingga rencana pembangunan jalan khusus batu bara. Namun, masyarakat masih merasakan kemacetan panjang di sejumlah titik, termasuk kawasan Mendalo. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada keberadaan aturan, melainkan juga pada efektivitas pelaksanaan dan pengawasannya.

Di sinilah seorang pemimpin harus menunjukkan kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif. Permasalahan yang melibatkan sektor pertambangan tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu instansi. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, aparat kepolisian, perusahaan tambang, akademisi, hingga masyarakat perlu duduk bersama membangun solusi yang berkelanjutan. Kepemimpinan modern bukan lagi tentang bekerja sendiri, melainkan menggerakkan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan bersama.

Baca Juga  BATU BARA: Menggugat Keadilan dan Kebijakan SDA Jambi

Pemanfaatan teknologi digital juga perlu menjadi bagian dari solusi. Pemerintah dapat menerapkan sistem pemantauan kendaraan berbasis GPS, kamera pengawas (CCTV), serta dashboard pengawasan yang terintegrasi sehingga pelanggaran terhadap jam operasional dapat diketahui secara langsung. Dengan sistem digital tersebut, pengawasan tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga didukung oleh data yang akurat dan transparan. Langkah ini sejalan dengan semangat pemerintahan digital yang menempatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Selain itu, percepatan pembangunan jalan khusus angkutan batu bara harus menjadi prioritas. Selama kendaraan tambang masih menggunakan jalan umum sebagai jalur utama distribusi, potensi konflik dengan masyarakat akan terus terjadi. Jalan khusus bukan hanya menjadi solusi bagi kelancaran distribusi hasil tambang, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap hak masyarakat untuk memperoleh akses transportasi yang aman.

Baca Juga  Jelang Pilkada Serentak Pemprov Jambi Kembali Tegaskan Pengaturan Angkutan Batu Bara

Pemerintah juga perlu membuka ruang komunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat terdampak. Aspirasi warga tidak boleh hanya didengar ketika terjadi protes atau kecelakaan. Forum dialog yang rutin akan membantu pemerintah memahami kondisi lapangan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang diambil.

Pada akhirnya, masyarakat Mendalo tidak menolak keberadaan industri batu bara. Mereka memahami bahwa sektor tersebut memiliki peran penting bagi perekonomian daerah. Namun, masyarakat juga berharap pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan, kenyamanan, dan kepentingan publik. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu menghadirkan keseimbangan di antara keduanya.

Persoalan angkutan batu bara di Mendalo tidak boleh terus dianggap sebagai masalah yang biasa. Semakin lama dibiarkan, semakin besar pula dampak sosial, ekonomi, dan keselamatan yang harus ditanggung masyarakat. Sudah saatnya para pemimpin di Provinsi Jambi menunjukkan keberanian untuk mengambil langkah yang tegas, terukur, dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak kebijakan yang diumumkan, melainkan seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. ***

 

Share :

Baca Juga

Opini

Paradoks Batubara Jambi

Opini

Irjen Pol (P) Syafril Nursal Rising Star Calon DPR RI Partai Demokrat Dapil Jambi

Opini

Provinsi Jambi dan Bio Carbon Fund

Opini

Ketika Teknologi Melaju, Kepemimpinan Menjadi Penentu

Opini

Transformasi Bank Jambi Melalui Penguatan Modal Inti Minimum

Opini

Pemimpin Muda Jambi “Punyo Selero”

Opini

Harga Cabai Rp120 Ribu, Bagaimana Tata Niaga Pangan Jambi ?

Opini

Antisipasi Eksodus Pemilih pada Pilkada 2024