Home / Opini

Minggu, 21 September 2025 - 15:58 WIB

Digitalisasi Tanpa Akar, Kritik pada Gubernur Al Haris Justru Menyelamatkan Jambi

Oleh : Dr. Noviardi Ferzi | Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik

KRITIK adalah hal biasa, bukan suatu kebencian, apalagi setting agenda untuk mendeskreditkan penguasa Jambi. Dalam konteks ini kritik terhadap Gubernur Jambi Al Haris bukanlah sekadar kegemaran sebagian pihak untuk menentang, melainkan sebuah alarm agar arah pembangunan tidak melenceng dari kebutuhan mendasar rakyat.

Menyebut kritik sebagai kontraproduktif justru keliru, sebab dalam demokrasi kritik adalah mekanisme koreksi agar kebijakan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi berakar kuat di tengah masyarakat.

Pembangunan Islamic Center dan Stadion Swarna Bhumi memang diklaim sebagai simbol budaya dan pemicu ekonomi. Namun, ketika Jambi masih menghadapi angka stunting yang meningkat, kemiskinan yang membelit, dan infrastruktur dasar yang belum memadai, proyek-proyek mercusuar itu tampak lebih sebagai etalase politik ketimbang jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat.

Baca Juga  Problem Kelas Menengah di Jambi

Hal serupa berlaku pada program digitalisasi. Pemerintah boleh saja menekankan bahwa digitalisasi adalah kebutuhan zaman, tetapi faktanya pertumbuhan ekonomi Jambi triwulan II 2025 masih bertumpu pada sektor tambang. Digitalisasi yang digembar-gemborkan nyatanya belum menembus sektor produktif seperti pertanian, industri, dan UMKM. Kritik terhadap hal ini bukanlah sikap pesimis, melainkan penegasan bahwa digitalisasi tanpa akar di masyarakat hanyalah slogan kosong.

Baca Juga  Konsumsi dan Ekspor Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Literatur pembangunan (Brynjolfsson & McAfee, 2014) juga menunjukkan bahwa digitalisasi baru efektif bila didukung pemerataan infrastruktur, peningkatan kapasitas SDM, serta regulasi yang melindungi UMKM dari cengkeraman platform besar. Di Jambi, akses internet di banyak desa masih terbatas, literasi digital rendah, dan modal usaha kecil lemah. Tanpa fondasi ini, digitalisasi justru memperlebar jurang kesenjangan antara kota dan desa.

Yang lebih berbahaya lagi, muncul kelompok “pemuja dengan agenda”—mereka yang secara membabi buta membenarkan setiap langkah pemerintah, bukan demi kepentingan rakyat, melainkan untuk mengamankan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Baca Juga  Ekonomi Tanjab Barat Stabil Tapi Belum Berkualitas

Pemuja semacam ini menutup ruang kritik sehat, menciptakan ilusi seolah kebijakan sudah sempurna, padahal rapuh. Jika pemerintah lebih mendengar tepuk tangan mereka ketimbang suara kritis masyarakat, Jambi hanya akan berjalan dalam lingkar pencitraan, bukan pembangunan berkelanjutan.

Karena itu, kritik yang dialamatkan kepada Al Haris sejatinya bukan penghalang, melainkan penyelamat. Kritik itulah yang menjaga agar kebijakan tidak terjebak dalam agenda kelompok tertentu, tetapi benar-benar berakar pada kebutuhan rakyat. Menutup telinga dari kritik hanya akan membuat Jambi berjalan di atas pondasi rapuh—indah dipandang, tetapi mudah runtuh. ***

Share :

Baca Juga

Opini

RUMUS KEHIDUPAN: Sudahi

Opini

MAHASISWA BUNUH DIRI: Tekanan Akademik yang Mencekik?

Opini

HUT ke-63 TVRI: Terdepan Melayani di Tengah Gempuran Media Digital

Opini

Menguji Kesaktian Pancasila di Era Digital

Opini

Bertahan di Tengah Guncangan: Kisah Mahasiswa Indonesia di Istanbul Pasca Gempa 6,2 Magnitudo

Opini

Irjen Pol (P) Syafril Nursal Rising Star Calon DPR RI Partai Demokrat Dapil Jambi

Opini

BUNUH DIRI: Perlu Penguatan Sosial dan Mental

Opini

Mendiagnosis Wajah Kota Jambi: Preskripsi ‘The Doctor’ Menuju 625 Tahun Tanah Pilih Pusako Batuah