Home / Reportase

Rabu, 8 Mei 2024 - 23:12 WIB

“Pil Pahit” Pensiunan Guru di RSUD Raden Mattaher

JAMBIBRO.COM – Di balik senyum hangat Ibu Sri Jati Mulyani, seorang pensiunan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), tersimpan pengalaman pahit saat berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher, Jambi.

Luka di hatinya bukan hanya karena penyakit yang diderita. Namun juga karena perlakuan tak terduga dari sistem kesehatan yang seharusnya menjadi tempatnya mendapatkan pertolongan.

Empat hari, terhitung 27 hingga 30 April 2024, menjadi masa penuh perjuangan bagi Ibu Sri di RSUD Raden Mattaher. Di bawah asuhan dr Rio Rahmadi Sp.U, FICS dan tim perawat, Ibu Sri mendapat perawatan intensif dan obat-obatan yang diharapkan mampu meringankan kondisinya.

Sebuah secercah harapan muncul, saat dokter dan perawat memberitahunya untuk kembali kontrol dalam kurun waktu 5 – 14 hari. Dengan penuh semangat, Ibu Sri kembali ke rumah sakit pada hari ketujuh untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Baca Juga  Insentif Nakes Walahuallam Dibayar, Hutang RSUD Raden Mattaher Ajah Rp.69 Miliar

Namun, takdir berkata lain. Dokter Rio yang ditunggu tidak ada, digantikan oleh dr Ardiansyah Periadi Sp.U sebagai dokter pengganti.

Harapan Ibu Sri pupus seketika. Alih-alih mendapat pemeriksaan menyeluruh. Dia hanya disodori pertanyaan singkat tentang CT Scan yang tidak dibawanya.

Tanpa basa-basi, dr Ardiansyah menyatakan ketidakmampuannya memeriksa tanpa CT Scan, seolah melemparkan tanggung jawab kepada pasien yang sudah sepuh dan lemah.

“Gimana saya mau ngecek, sedangkan CT SCAN-nya tidak ada,” jawab dr Ardiansyah singkat, meninggalkan Ibu Sri dengan perasaan kecewa dan kebingungan.

Baca Juga  Katanya RSUD Raden Mattaher Bagus, Insentif Nakes Ajah Lima Bulan Tak Dibayar…

Ia pun bergegas meminta anaknya mengambil CT Scan dimaksud. Sepuluh menit kemudian, Ibu Sri kembali dengan hasil CT Scan di tangannya. Tapi pil pahit kembali menyapa. Dokter Ardiansyah sudah tidak ada di tempat, seolah menghilang tanpa jejak.

Hanya perawat yang menyambutnya, dengan informasi dia harus kembali lagi hari Sabtu untuk bertemu dr Rio, dan membawa rujukan terbaru dari puskesmas. Alasannya, Ibu Sri adalah pasien BPJS Kesehatan dan membutuhkan pendaftaran ulang.

Perasaan Ibu Sri kian hancur. Di tengah kondisi kesehatan yang menurun, dia dihadapkan pada sistem yang rumit dan berbelit-belit.

Baca Juga  Ramai Berita Pensiunan Guru Kecewa Pelayanan RSUD Raden Mattaher, Iskandar Budiman: Gubernur Salah Pilih Direktur

Rasa sakit fisiknya bercampur dengan luka hati mendalam, dibayangi keraguan atas profesionalisme dan kepedulian terhadap pasien di RSUD Raden Mattaher, Jambi.

Kisah Ibu Sri Jati Mulyani bagaikan cerminan pilu dari realitas sistem kesehatan di Indonesia. Di balik megahnya bangunan rumah sakit dan gelimang janji layanan kesehatan, tersembunyi luka dan kekecewaan para pasien yang menanti pertolongan.

Akankah kisah Ibu Sri menjadi pengingat bagi para pemangku kepentingan untuk berbenah dan menghadirkan sistem kesehatan yang benar-benar berpihak pada rakyat? Ataukah pil pahit ini akan terus terulang, meninggalkan luka bagi para pasien yang tak berdaya? | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

Hakordia 2025, OJK Perkuat Tata Kelola

Reportase

Pemprov Jambi Ajak Warga Nobar Piala Dunia di TVRI

Reportase

Tokoh Agama Kerinci – Sungai Penuh Pasrahkan Kasus Ijazah Amrizal ke Tuhan

Nasional

Pemkab Muarojambi Dukung Penuh MBG dan Kopdes Merah Putih

Reportase

Gubernur Jambi Rapat Bersama Asosiasi Sopir Batu Bara

Reportase

Minta Disodomi Remaja, Pelaku Rela Sewa Kos

Reportase

Netizen dan Warga Aceh Puji Penampilan dan Sikap Kontingen Jambi PON XXI

Reportase

Omzet UMKM SIGINJAI 2025 Hampir 1 Miliar