Oleh: Bahren Nurdin | Pengamat Sosial
KITA boleh tidak suka dengan artificial intelligence (AI). Kita boleh khawatir, curiga, bahkan takut pekerjaan kita akan diambil alih. Tetapi ada satu hal yang rasanya sulit kita lakukan: menghindarinya.
AI hari ini sudah seperti telepon genggam. Dulu orang mungkin bertanya, “Untuk apa punya handphone?” Sekarang pertanyaannya justru berubah menjadi, “Bagaimana hidup tanpa handphone?” Begitu pula AI. Kedatangannya bukan sesuatu yang bisa kita tolak. Ia akan terus berkembang dan masuk ke hampir semua ruang kehidupan.
Karena itu, yang paling penting bukan menolak AI, tetapi menerimanya dengan pikiran terbuka dan literasi yang baik. Dengan cara inilah kita akan menguasainya bukan dikuasai. AI harus kita tempatkan sebagai tools, sebagai alat bantu. Bukan sebagai pengganti manusia.
Seorang mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT untuk membantu merapikan tulisan. Seorang dosen boleh menggunakannya untuk mengembangkan bahan ajar. Seorang ibu rumah tangga dapat memanfaatkannya untuk mencari ide usaha. Seorang pejabat dapat menggunakannya untuk mengolah data dan menyusun berbagai alternatif kebijakan. Tetapi satu hal tidak boleh diserahkan kepada mesin: menjadi manusia itu sendiri.
Apa yang tidak boleh digantikan AI? Ide. Gagasan. Critical thinking. Kepekaan. Dan terutama hati.
Jack Ma pernah menggunakan ungkapan sederhana: “Machines have chips, humans have hearts.” Mesin mempunyai chip, manusia mempunyai hati. Bagi saya, kalimat ini sangat penting untuk memahami masa depan AI. Adalah malapetaka jika manusia menggunakan AI tanpa hati. Dia akan dikuasai oleh AI itu sendiri.
Ingat, AI dapat mengolah ribuan data kemiskinan. Tetapi apakah AI dapat merasakan bagaimana seorang ibu harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah anaknya? AI dapat membaca data pengangguran. Tetapi kita yang berhadapan dengan anak-anak muda yang kehilangan harapan karena berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan.
Data dapat diolah oleh AI. Tetapi makna di balik data itu tetap membutuhkan manusia yang mampu melihat, merasakan, dan berpikir.
Karena itu, saya membayangkan kerja sama manusia dan AI ke depan bukan sebagai pertarungan manusia melawan mesin. Bukan pula manusia menyerahkan semuanya kepada mesin. Kita membutuhkan model kerja sama yang lebih cerdas. Sederhananya begini: biarkan AI membantu otak kita bekerja lebih cepat, tetapi hati tetap kita kendalikan sendiri.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi manusia atau mesin. Pertanyaannya adalah, manusia seperti apa yang mampu hidup berdampingan atau menguasai mesin yang semakin cerdas? Sebab, masa depan bukan milik manusia yang menolak mesin. Bukan pula milik mereka yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada mesin. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan manusia. Intinya, manusia tetap tidak boleh kalah dari mesin.
Di sinilah letak tantangan kita. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tidak boleh kehilangan akal, rasa, dan hati. Mesin boleh membantu kita menemukan jawaban, tetapi manusialah yang harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan dan untuk siapa jawaban itu digunakan. Selanjtunya, pilihan tetap di tangan kita; mau menguasai atau dikuasai?
Kita memberikan ide dan gagasan. AI membantu mencari informasi, mengolah data, menyusun alternatif, merangkai kalimat, bahkan menerjemahkan pikiran kita agar dapat dipahami lebih luas. Tetapi arah, nilai, keberpihakan, dan keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia.
Inilah literasi AI yang sesungguhnya. Bukan sekadar pandai menggunakan ChatGPT atau aplikasi AI lainnya, tetapi tahu kapan harus menggunakannya, untuk apa menggunakannya, dan kapan harus mengatakan: “Tidak, bagian ini adalah tanggung jawab saya sebagai manusia.”
Jika otak manusia dan kemampuan mesin dapat bekerja bersama, sementara hati manusia tetap menjadi kompasnya, saya kira kita tidak perlu terlalu takut menghadapi masa depan. Justru sebaliknya. Di sanalah kekuatan dahsyat itu mungkin lahir: mesin membantu kita bekerja lebih cerdas, sementara manusia memastikan kecerdasan itu tetap digunakan untuk kemanusiaan. ***







