Home / Reportase

Rabu, 25 Maret 2026 - 13:14 WIB

Disparitas Tajam Stunting, Tantangan Besar di Balik Capaian Nasional

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM — Penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 19,8 persen pada 2024 dari 21,5 persen di 2023 menjadi sinyal positif perbaikan kualitas gizi masyarakat. Namun, di balik capaian tersebut, ketimpangan antarwilayah masih menjadi persoalan mendasar yang belum teratasi.

Data menunjukkan disparitas yang tajam, dengan Papua Pegunungan mencatat prevalensi sekitar 40 persen, disusul Nusa Tenggara Timur sebesar 37 persen dan Sulawesi Barat sebesar 35,4 persen. Sementara itu, Bali berada pada level terendah di kisaran 8,6–8,7 persen.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan stunting di Indonesia telah bergeser menjadi isu ketimpangan struktural, bukan sekadar masalah kesehatan.

Baca Juga  FKM UI Gandeng Pemkot Jambi Gelar Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat

“Penurunan angka nasional memang penting, tetapi tidak cukup. Ketika ada daerah dengan angka hampir lima kali lipat lebih tinggi dari daerah lain, itu artinya intervensi kita belum tepat sasaran,” ujarnya.

Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar sebagai instrumen strategis untuk menekan stunting secara signifikan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada desain kebijakan yang berbasis wilayah.

“MBG bisa menjadi game changer, tetapi syaratnya satu, harus tepat sasaran. Intervensi tidak boleh seragam. Daerah dengan prevalensi tinggi seperti Papua Pegunungan, NTT, dan Sulawesi Barat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Baca Juga  Pemkot Jambi Siapkan Layar LED Raksasa, Euforia Nobar Final Piala Dunia 2026

Ia menjelaskan, tantangan di wilayah-wilayah tersebut tidak hanya terkait ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut kemiskinan, keterisolasian, rendahnya akses layanan kesehatan, serta lemahnya rantai distribusi pangan.

“Kalau MBG hanya dimaknai sebagai pembagian makanan, dampaknya akan terbatas. Program ini harus terintegrasi dengan penguatan produksi pangan lokal, perbaikan logistik, serta edukasi gizi masyarakat,” katanya.

Sebaliknya, keberhasilan Bali dalam menekan angka stunting dinilai sebagai bukti bahwa pendekatan terintegrasi mampu memberikan hasil nyata.

Baca Juga  Hadiri Reuni SMPN 1 Kota Jambi, Junaidi Mahir Ungkapkan Jasa Para Guru

“Bali menunjukkan bahwa ketika ekonomi rumah tangga, sanitasi, dan layanan kesehatan berjalan baik, stunting bisa ditekan. Ini yang harus direplikasi, tentu dengan penyesuaian karakteristik daerah,” jelasnya.

Lebih jauh, Noviardi menekankan bahwa keberhasilan MBG akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan, terutama dalam menghadapi bonus demografi.

“Ini bukan sekadar program sosial, tapi investasi jangka panjang. Jika tepat desain dan tepat sasaran, MBG bukan hanya menurunkan stunting, tetapi juga memperkecil ketimpangan dan meningkatkan daya saing bangsa,” pungkasnya. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

PKS Nilai Penambahan Anggaran Stadion Swarnabhumi dan Islamic Center Harus Dipertimbangkan Lagi

Reportase

Pemkot Jambi Buka Pintu untuk Aspirasi Warga Aur Kenali dan Mendalo Darat

Reportase

Hati-hati Jelang Lebaran, Maling Nekat Karpet Juga Diembat

Reportase

Kebakaran Hebat Ludeskan Rumah, Bengkel dan Motor

Reportase

Gubernur Jambi Ajak ASN dan Masyarakat Bersinergi Lahirkan Kerja Nyata

Reportase

Banmus DPRD Provinsi Jambi Kunjungan Kerja ke DPRD DKI Jakarta

Reportase

28 Tahun Polda Jambi, Narkoba Tantangan Terbesar

Reportase

Haikal Ditemukan Meninggal Dunia Cuma 20 Meter dari Titik Tenggelam