JAMBIBRO.COM — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jambi bergerak cepat, menyongsong pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 dengan menggelar diskusi kelompok terfokus atau Focus Group Discussion (FGD).
Agenda strategis ini dilaksanakan sebagai wadah evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Pemilu 2024, sekaligus menghimpun cetak biru pembenahan sistem pengawasan ke depan.
Pertemuan dipusatkan di ruang rapat Kantor Bawaslu Provinsi Jambi, Senin, 29 Juni 2026, dihadiri jajaran pimpinan Bawaslu Provinsi Jambi dengan melibatkan perwakilan Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda (OKP), serta pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) berbagai perguruan tinggi.
Ketua Bawaslu Provinsi Jambi, Wein Arifin, menerangkan bahwa ruang dialog ini didesain untuk membedah potret pelaksanaan pemilu dan pilkada serentak 2024.
Wein menegaskan, esensi evaluasi tidak boleh terjebak pada persoalan teknis prosedural semata, tapi wajib menyentuh substansi keadilan demokrasi agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pemilu merupakan perangkat demokrasi untuk memilih pemimpin, di tingkat nasional maupun daerah. Melalui FGD ini kami berharap lahir berbagai masukan dan rekomendasi dari mahasiswa serta organisasi kepemudaan sebagai bekal perbaikan pelaksanaan Pemilu 2029,” ujarnya.
Wein menjabarkan pandangannya mengenai dinamika politik nasional yang telah melewati berbagai fase transisi sejarah yang dinamis. Setiap dokumen evaluasi yang dihasilkan harus menjadi pemantik utama dalam menaikkan mutu demokrasi yang bersandar pada koridor konstitusi serta pemenuhan hak publik.
Anggota Bawaslu Provinsi Jambi, Rofiqoh Pebrianti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kedatangan para aktivis muda yang memadati ruang pertemuan. Komitmen elemen pemuda ini dinilai krusial sebagai modal awal dalam melahirkan rekomendasi yang tajam dan aplikatif untuk masa depan kepemiluan.
“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir. Pertemuan ini diharapkan memberikan banyak masukan terhadap pelaksanaan pemilu dan pilkada, sehingga ke depan penyelenggaraannya menjadi semakin baik,” ungkap Rofiqoh.
Sementara itu, anggota Bawaslu lainnya, Ari Juniarman, menekankan status mahasiswa dan kelompok kepemudaan sebagai mitra tak terpisahkan dalam mengawal ekosistem politik yang sehat.
Idealisme yang melekat pada jiwa muda sangat dibutuhkan demi menyuplai perspektif yang independen serta obyektif di tengah kompleksitas kontestasi politik.
“Teman-teman mahasiswa merupakan mitra strategis Bawaslu. Kami berharap dapat memberikan saran, masukan, dan pandangan terhadap pelaksanaan pemilu, sehingga kualitas Pemilu 2029 lebih baik dibanding sebelumnya,” jelas Ari.
Sepanjang sesi diskusi bergulir, para peserta aktif melayangkan lembar kritik serta poin masukan yang tajam mengenai dinamika pemungutan suara periode lalu.
Beberapa isu krusial yang mengemuka meliputi urgensi penguatan kurikulum pendidikan politik warga, serta perluasan skema pengawasan pemilu secara partisipatif.
Selain itu, forum juga menyoroti pentingnya adopsi teknologi informasi yang mutakhir dalam mendeteksi kecurangan serta formula efektif dalam memutus mata rantai politik uang. Para mahasiswa menawarkan gagasan segar terkait metode taktis untuk mendongkrak partisipasi pemilih pemula di bilik suara nanti.
Pada koridor yang sama, anggota Bawaslu Provinsi Jambi, Indra Tritusian, mengingatkan publik bahwa denyut nadi pengawasan demokrasi tidak boleh berhenti, meski sedang berada di masa non-tahapan.
Salah satu agenda krusial yang saat ini tengah bergulir di tingkat bawah adalah program pemutakhiran data pemilih secara berkelanjutan yang wajib terus dikawal keakuratannya.
“Saat ini memang belum memasuki tahapan Pemilu 2029, namun proses demokrasi tetap berjalan, salah satunya melalui pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Mahasiswa dapat ikut mengawal akurasi data pemilih sebagai bagian dari penguatan kualitas demokrasi,” kata Indra.
Bawaslu Provinsi Jambi memastikan akan mendokumentasikan seluruh catatan kritis para peserta sebagai rujukan resmi dalam menyusun rekomendasi kebijakan ke tingkat pusat.
Keterlibatan aktif dari kelompok intelektual muda ini diyakini mampu menyuntikkan energi positif bagi terciptanya iklim pemilu yang jujur dan adil.
Bagi institusi pengawas, sinergi multipihak ini diposisikan sebagai fondasi dasar dalam menyambut Pemilu 2029 yang lebih transparan, berintegritas, serta bermutu tinggi.
Komitmen untuk membuka lebar pintu komunikasi, kolaborasi, dan kemitraan publik dengan berbagai elemen masyarakat sipil akan terus dipertahankan.
Harmonisasi kerja antara regulator pemilu, kalangan akademisi, kelompok pemuda, dan warga negara diharapkan mampu mendewasakan sistem politik nasional.
Langkah awal dari Jambi ini menjadi bukti keseriusan daerah dalam mengawal proses transisi kepemimpinan nasional yang bersih dan bermartabat melalui sistem demokrasi yang semakin matang. | PR







