Home / Reportase

Senin, 22 Juni 2026 - 23:56 WIB

Rupiah Menguat, BI Rate Naik, Momentum Jaga Stabilitas dan Produktivitas

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM – Penguatan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen membawa dampak penting bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, kondisi ini membantu menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Namun di sisi lain, terdapat tantangan terhadap sektor ekspor dan investasi yang harus diantisipasi melalui peningkatan produktivitas industri nasional.

Menanggapi hal ini, pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menjelaskan bahwa penguatan rupiah memberikan efek positif terhadap inflasi melalui mekanisme imported inflation atau inflasi impor.

Rupiah yang lebih kuat menyebabkan harga barang impor, termasuk bahan baku industri, barang modal, serta komoditas energi seperti minyak bumi menjadi lebih murah dalam denominasi rupiah sehingga biaya produksi dapat ditekan.

Baca Juga  Pemkot Jambi Imbau ASN Buka Donasi Bantu Korban Bencana

“Penguatan rupiah menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga. Mengingat sebagian industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor, apresiasi rupiah mampu mengurangi tekanan biaya produksi dan membantu menjaga daya beli masyarakat,” ujar Noviardi.

Menurutnya, berbagai kajian ekonomi menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah memiliki pengaruh signifikan terhadap kenaikan inflasi melalui jalur impor. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat membantu menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen untuk tahun 2026 dan 2027.

Namun demikian, Noviardi mengingatkan bahwa penguatan rupiah yang terlalu besar juga memiliki konsekuensi terhadap daya saing ekspor. Produk Indonesia dapat menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri ketika dihitung dalam valuta asing sehingga berpotensi menekan permintaan dan volume ekspor.

Baca Juga  Dari Ajang Musda XI Golkar Jambi, di Balik Aklamasi dan Aspirasi

Di sisi lain, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen dinilai mendukung stabilitas nilai tukar dan meningkatkan daya tarik arus modal asing. Akan tetapi, suku bunga yang lebih tinggi juga menyebabkan biaya pinjaman meningkat bagi pelaku usaha dan masyarakat, yang pada akhirnya dapat menahan ekspansi investasi serta konsumsi dalam jangka pendek.

“Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara kebijakan stabilitas makro dengan penguatan sektor riil. Stabilitas moneter harus menjadi momentum untuk melakukan transformasi industri, meningkatkan efisiensi produksi, memperluas pasar ekspor, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor,” jelasnya.

Baca Juga  Waspada Pencatutan Nama Gubernur dan Modus Penipuan Digital

Menurut Noviardi, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada rendahnya inflasi dan kuatnya nilai tukar rupiah, tetapi juga pada kemampuan industri nasional menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing di pasar global.

“BI Rate 5,75 persen dan penguatan rupiah seharusnya menjadi momentum pembenahan struktur ekonomi. Indonesia perlu memperkuat industri domestik agar stabilitas ekonomi yang tercipta dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” pungkasnya. | DOD

Share :

Baca Juga

Reportase

Perkuat Pasar Modal, OJK Terbitkan Aturan Ini

Reportase

Sentuhan Pemimpin, Wali Kota Maulana Jenguk Balita Hidrosefalus dan Aktifkan BPJS

Reportase

Terjebak di Tengah Kobaran Api, Seorang Kakek Tewas Terbakar

Reportase

Lestarikan Tradisi Leluhur, Bupati Muaro Jambi Buka Ritual Ngantar Kembang di Danau Kedap

Reportase

10 Media Siber di Jambi Terima Apresiasi dan Penghargaan dari SKK Migas

Reportase

Lantik Pranata Komputer Diskominfo, Diza Perkuat Pasukan Digital Kota Jambi

Reportase

Dua Rumah di Pelayangan Terbakar Akibat Korsleting Listrik

Reportase

PT Rigunas Agri Utama Anak Asian Agri Gelar Apel Bulan K3 di Tebo