Home / Reportase

Sabtu, 11 April 2026 - 15:47 WIB

Godzilla El Nino, Panas yang Menggigit Ekonomi Indonesia

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM – Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, mengingatkan fenomena El Nino berkekuatan tinggi, atau Godzilla El Nino, berpotensi menjadi ancaman serius bagi perekonomian Indonesia sepanjang 2026, jika tidak diantisipasi secara cepat dan terukur.

Menurut Noviardi, ancaman terbesar bukan hanya terletak pada cuaca panas dan musim kemarau yang lebih panjang, tetapi pada efek berantai terhadap produksi pangan, inflasi, daya beli masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ketika curah hujan turun drastis, sektor pertanian akan menjadi yang paling pertama merasakan dampaknya. Produksi padi, jagung, kedelai, hingga hortikultura bisa menurun signifikan, terutama di daerah yang sangat bergantung pada tadah hujan seperti Jawa, Bali, NTT, bahkan sebagian Sumatera,” ujar Noviardi di Jambi.

Ia mengatakan, data BMKG menunjukkan mayoritas wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026. Sebanyak 114 zona musim mulai mengalami kemarau pada April, 184 zona musim pada Mei, dan 163 zona musim pada Juni.

Bahkan, sekitar 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih kering dari normal, sementara 57,2 persen wilayah diperkirakan menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang, dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.

Baca Juga  Luar Biasa ! ASN Pemkot Jambi Kurban 142 Sapi, 8 Kerbau, 30 Kambing

Noviardi menilai kondisi ini harus menjadi alarm serius bagi daerah-daerah sentra pangan nasional seperti Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatera Selatan, Lampung, hingga sebagian Jambi yang sangat bergantung pada ketersediaan air untuk pertanian dan perkebunan.

Kekeringan yang berlangsung lebih lama dapat mengganggu pola tanam, menurunkan produktivitas sawit dan karet, serta memperbesar potensi gagal panen pada komoditas pangan utama.

“Jika produksi pangan terganggu, maka harga bahan pokok akan naik. Beras, cabai, bawang, telur, hingga komoditas hortikultura lainnya berpotensi mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Ini yang akan memicu inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah,” katanya.

Ia menilai Indonesia masih cukup rentan karena struktur ekonomi nasional masih ditopang sektor primer seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. Sekitar 25 persen PDB nasional masih berasal dari sektor-sektor tersebut, sehingga ketika El Nino memicu gangguan produksi, maka pertumbuhan ekonomi nasional otomatis ikut tertekan.

“IMF bahkan memperkirakan El Nino dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 0,35 poin persentase per kuartal jika dampaknya cukup besar dan berlangsung lama. Jadi persoalan ini bukan hanya soal cuaca, tetapi sudah menyentuh stabilitas ekonomi nasional,” tegasnya.

Baca Juga  Ungkap Pengangkutan Solar Olahan Ilegal, Polisi Tahan Dua Sopir

Selain sektor pangan, Noviardi juga mengingatkan ancaman terhadap sektor perikanan akibat perubahan suhu laut dan gangguan ekosistem yang berpotensi menurunkan hasil tangkapan nelayan. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga dinilai meningkat, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

“Karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, transportasi, kesehatan masyarakat, sekolah, hingga investasi. Kerugian ekonominya bisa jauh lebih besar dibanding biaya pencegahan,” ujarnya.

Meski demikian, Noviardi menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi apabila langkah mitigasi dilakukan sejak dini. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai memperkuat stok beras nasional melalui gudang cadangan Bulog dan penguatan infrastruktur air di sejumlah daerah sentra pertanian.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat program pompanisasi, pembangunan sumur bor, irigasi tetes, serta penyebaran bibit tahan kekeringan agar produktivitas pertanian tetap terjaga. Di sisi lain, program asuransi pertanian juga harus diperluas agar petani memiliki perlindungan ketika gagal panen terjadi.

Baca Juga  11 Kilo Ganja Gagal Beredar di Jambi

“Pemerintah tidak boleh hanya fokus pada impor saat krisis terjadi. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan produksi sejak sekarang melalui irigasi, sumur bor, pompanisasi, bibit tahan kekeringan, serta perlindungan asuransi untuk petani,” ujarnya.

Noviardi juga mendorong pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Jambi, untuk mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi musim kemarau panjang, terutama di daerah perkebunan dan pertanian pangan.

“Jambi harus waspada karena kemarau panjang bisa mengganggu produktivitas sawit, karet, tanaman pangan, serta meningkatkan ancaman kebakaran lahan. Pemerintah daerah harus mulai memetakan wilayah rawan, memperkuat pengawasan karhutla, dan menyiapkan cadangan air sejak sekarang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa El Nino Godzilla harus dijadikan momentum untuk mempercepat reformasi pertanian dan membangun sistem ekonomi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

“Indonesia tidak boleh terus bergantung pada pola lama. Krisis iklim harus dijawab dengan pertanian yang lebih adaptif, teknologi yang lebih modern, serta diversifikasi pangan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu komoditas,” tutup Noviardi. | DIA

Share :

Baca Juga

Reportase

Pemkab Muaro Jambi Terima Penghargaan Paritrana Awards 2024

Reportase

Kasus Amrizal Belum Juga Ada Tersangka, Apo Hal Ko ?…

Reportase

Pertamina EP Jambi – Gandeng Damkar Edukasi Warga tentang Potensi Kebakaran dan Cara Padamkan Api Ringan

Reportase

Didukung Pemerintah Kota Jambi, Pokdarwis Rentang Gelar Lomba Perahu

Reportase

Ahli Waris Widianto Terima Santunan Kematian

Reportase

Pisah Sambut Krisno Halomoan Siregar dan Rusdi Hartono Mengharukan

Reportase

Korem 042/Gapu Gelar Upacara Tabur Bunga di TMP Satria Bakti

Reportase

BNN Provinsi Jambi Tangkap Puluhan Orang Sepanjang 2023