Home / Reportase

Jumat, 16 Januari 2026 - 19:07 WIB

Ketika Kata Menjadi Luka Berujung Laporan Polisi

Agus Saputra setelah melapor ke Polda Jambi (kiri), salah seorang siswa yang terlibat (kanan) | sn

Agus Saputra setelah melapor ke Polda Jambi (kiri), salah seorang siswa yang terlibat (kanan) | sn

JAMBIBRO.COM — Di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, suasana belajar yang seharusnya tenang berubah menjadi konflik.

Perkelahian terjadi antara seorang guru Bahasa Inggris, Agus Saputra, dengan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Tanjabtim itu.

Peristiwa tersebut bukan hanya mencoreng wajah dunia pendidikan, tapi juga membuka luka sosial yang kini bergulir ke ranah hukum.

Agus mengisahkan, peristiwa bermula dari sebuah teguran yang dianggapnya tidak sopan. Seorang siswa menyinggung dirinya dengan ucapan yang dianggap tidak pantas.

Merasa dilecehkan, Agus masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berani berkata demikian. Bukannya mendapat klarifikasi, ia justru ditantang oleh siswa.

“Refleks saya menampar satu kali wajah seorang siswa. Itulah awal kejadiannya,” ujar Agus, Jumat, 16 Januari 2026.

Tamparan itu menjadi pemicu. Siswa yang ditampar menantang kembali, sementara rekan-rekannya ikut tersulut emosi.

Agus mencoba melakukan mediasi, namun tuntutan siswa hanya satu: Agus harus meminta maaf.  Mediasi itu gagal.

Baca Juga  Srikandi Bawaslu Jambi Tampilkan Tarian SAD, Layang Pakaseh Doa Ibu untuk Bumi

Agus sudah menyampaikan kronologi kejadiannya ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia dimintai keterangan detail, mulai dari waktu, tempat, hingga sebab peristiwa itu terjadi.

Namun, saat mediasi digelar bersama pihak sekolah, orang tua, dan aparat, Agus memilih tidak hadir. Alasannya, keselamatan dan kesehatan dirinya tidak terjamin.

“Kalau saya dijamin keselamatan, saya akan datang. Tapi saya juga harus menjaga diri saya,” tegasnya. L

Agus menyatakan tidak mungkin lagi mengajar di sekolah tersebut. Menurutnya, penerimaan dari siswa sudah hilang, dan rasa aman tidak lagi ada.

Di sisi lain, MLF, salah seorang siswa yang terlibat pengeroyokan, menyampaikan cerita berbeda.

Menurutnya, konflik bermula dari ucapan guru yang dianggap menghina orang tua siswa. Para siswa mendesak Agus minta maaf, namun ditolak.

“Kami kecewa, bukannya minta maaf, malah mengejek sambil senyum,” kata MLF.

Ketegangan memuncak ketika MLF mendekati Agus untuk minta klarifikasi. Bukannya berdialog, ia mengaku ditinju di bagian hidung.

Baca Juga  Polda Jambi Ditunggu, Endres Chan Lapor Polda Sumbar

Spontan, teman-temannya bereaksi dengan mengeroyok sang guru. Suasana pun heboh.

“Kalau guru tidak meninju duluan, tidak akan ada pengeroyokan. Banyak siswa yang jadi saksi,” tegas MLF.

Merasa dirugikan, Agus bersama kakaknya, Nasir, melaporkan kasus ini ke Polda Jambi pada Kamis malam, 15 Januari 2026.

Laporan itu berisi dugaan penganiayaan yang dilakukan siswa terhadap dirinya.

Nasir menuturkan, adiknya mengalami lebam di punggung, tangan, dan pipi. Visum sudah dilakukan sebagai bukti.

“Adik saya terganggu mental dan psikisnya setelah kasus ini viral,” ujarnya.

Agus sendiri memilih menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke pihak kepolisian. Ia menegaskan tidak ada lagi ruang untuk mediasi.

Video pengeroyokan yang terjadi pada Selasa, 13 Januari 2026, beredar luas di media sosial. Publik pun terbelah.

Ada yang menilai guru bersalah, karena menampar dan meninju siswa. Ada pula yang menilai siswa melampaui batas dengan melakukan pengeroyokan.

Baca Juga  Jelang Habis Masa Jabatan, Edi Purwanto Raih Gelar Doktor

Narasi yang berkembang menyebutkan konflik dipicu oleh kata “miskin” yang dilontarkan Agus. Tapi ia membantah tuduhan itu. Menurutnya, justru siswa yang lebih dulu melontarkan kata-kata tidak pantas.

Peristiwa ini menyedot perhatian Gubernur Jambi, Al Haris. Ia minta siswa tidak menghakimi guru.

Al Haris menurunkan tim dari dinas pendidikan untuk mendalami kasusnya.

“Tim dari diknas turun ke sana, kita lihat nanti bagaimana hasilnya,” kata Al Haris, Rabu.

Sebelumnya, juga telah dilakukan rapat mediasi, melibatkan orang tua siswa, guru, camat, dan kepolisian. Namun tak bertemu jalan damai.

Kasus ini memperlihatkan rapuhnya relasi antara guru dan siswa. Di satu sisi, guru merasa martabatnya dilecehkan. Sisi lain, siswa menuntut penghormatan terhadap orang tua mereka.

Kasus ini bukan sekadar konflik internal sekolah, tapi telah menjadi isu publik, menyangkut nama baik lembaga pendidikan, reputasi guru, dan masa depan siswa. | DIA

 

Share :

Baca Juga

Reportase

Muaro Jambi Desa Percontohan Sadar HAM

Reportase

Polri untuk Masyarakat, Jaga Kondusivitas dan Pelayanan

Reportase

Kasus Ijazah “Duo Amrizal” Semakin Terkuak

Reportase

Diantar Kades dan Keluarga, Pelaku Pengeroyokan di SMAN 4 Sarolangun Menyerahkan Diri

Reportase

Final Bupati Cup 2025, Akso Dano FC Juara, Lapangan Sengeti Penuh Sorak Sorai

Reportase

Amir Sakib Yakin Maju di Pilbup Tanjabbar, Dikabarkan Dapat Dukungan Gerindra dan PBB

Politik

Gubernur Jambi Ingatkan 4 Pesan Penting Jelang Pemilu 14 Februari 2024

Reportase

SIT Nurul Hikmah Gelar Pelatihan Media Sosial 5.0, Hadirkan Coach Noe