JAMBIBRO.COM — Pagi itu, Selasa 26 Agustus 2025, suasana Dusun Parit Lapis, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, terasa berbeda. Puluhan jurnalis dari berbagai media di Jambi berkumpul di halaman Bumdes Bersama Betara.lkd.
Mereka bukan sekadar datang untuk meliput, tetapi ikut merasakan pengalaman yang sudah menjadi agenda tahunan, Media Field Trip Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi bersama SKK Migas Sumbagsel – KKKS Wilayah Jambi.
Sebanyak 55 jurnalis, dipimpin Ketua FJM Jambi, Mursyid Sonsang, berangkat menuju Akatara Gas Processing Facilities (AGPF) milik Jadestone Energy (Lemang) Pte. Ltd.
“Kawan-kawan boleh menulis apa saja, tapi tetap ingat konfirmasi dan verifikasi. Itu prinsip jurnalisme yang harus kita jaga,” pesan Mursyid sebelum rombongan berangkat.
Ladang Migas di Tengah Perkebunan Sawit
Fasilitas AGPF berdiri kokoh di tengah hamparan kebun sawit. Bagi sebagian jurnalis, ini adalah kali pertama mereka melihat langsung bagaimana gas diproses.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat, kami bisa memahami lebih dekat dunia hulu migas,” ungkap Ulun Nazmi, anggota FJM Jambi yang sehari-hari bekerja di kabar18.com.
Pihak Jadestone Energy menyambut rombongan dengan hangat. Walau alasan keamanan membuat mereka tak bisa masuk ke seluruh area, para jurnalis tetap diajak melihat dari dekat aset vital nasional yang nilainya signifikan.
“Kami menjaga amanat ini dengan sebaik-baiknya. Semoga manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat sekitar,” ujar Yusrizal Firdaus, perwakilan Jadestone Energy.

Akatara Gas Processing Facilities (AGPF) milik Jadestone Energy (Lemang) Pte. Ltd | doddi irawan
Dari Beasiswa hingga Lampu Jalan
Selain mengenal lebih jauh operasi migas, kunjungan ini juga diwarnai kabar gembira bagi warga setempat. Dua putri daerah, Alvi Rahmi dan Elsa Angelina, menerima beasiswa penuh tanpa ikatan dinas untuk kuliah di Politeknik Akamigas, Palembang, Sumatra Selatan.
Semua biaya pendidikan ditanggung SKK Migas – Jadestone Energy. Bahkan pulsa, uang saku dan sewa kos mereka dapatkan. Sangat meringankan beban orang tua.
Tak hanya itu, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) juga hadir dalam bentuk lampu penerangan jalan dan fasilitas olahraga bagi remaja Betara.
“Kami ingin manfaat industri migas ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari pendidikan, infrastruktur, hingga kegiatan pemuda,” tambah Yusrizal.
Direktur Politeknik Akamigas Palembang, Amilia Miarti, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, industri migas, dan perguruan tinggi adalah langkah nyata untuk mencerdaskan anak bangsa.
Menjawab Polemik Sumur Minyak Rakyat
Di tengah field trip ini, satu isu besar turut mencuat: legalitas sumur minyak rakyat. Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafe’i Syafri, menjelaskan bahwa pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.
Aturan ini membuka peluang legalisasi bagi ribuan sumur minyak rakyat yang selama ini berstatus ilegal. Namun Syafe’i menegaskan, aturan itu hanya berlaku untuk sumur yang sudah beroperasi sejak lama.
“Tidak ada pengeboran baru. Hanya yang sudah ada yang bisa dilegalkan, tentu dengan mekanisme resmi lewat koperasi, BUMD, atau KUD yang ditunjuk pemerintah daerah,” jelasnya.
Menurut data sementara, terdapat sekitar 8.300 sumur minyak rakyat di Sumatra, 2.200 di antaranya berada di Provinsi Jambi. Pendataan dan verifikasi masih terus dilakukan.
“Kebijakan ini diharapkan bukan hanya meningkatkan produksi nasional, tapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, sambil tetap menjaga lingkungan,” tambah Syafe’i.
Sinergi untuk Negeri
Acara ini turut dihadiri perwakilan pemerintah daerah Tanjung Jabung Barat. Asisten Administrasi Umum Setda Tanjabbar, Agus Sanusi, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas SDM.
“Beasiswa ini sangat berarti bagi daerah kami. IPM Tanjabbar masih rendah, dan angka kemiskinan masih tinggi. Dengan pendidikan, harapan kami kesejahteraan masyarakat bisa meningkat,” ujarnya.
Tema “Perkuat Sinergi, Kuatkan Kolaborasi, untuk Negeri” bukan sekadar slogan. Bagi para jurnalis yang mengikuti field trip ini, pengalaman melihat langsung dunia hulu migas, menyaksikan beasiswa diberikan, hingga memahami regulasi sumur rakyat, menjadi cerita penting untuk dibagikan kepada publik.
Di penghujung acara, Mursyid Sonsang kembali mengingatkan rekan-rekan jurnalis.
“Media sosial bisa cepat menyebarkan informasi, tapi kita jurnalis punya tanggung jawab menjaga kebenaran. Itulah bedanya,” pesan alumni Lemhannas RI dan pemegang Press Card Number One (PCNO) itu.
Di situlah esensi media field trip ini, bukan hanya sekadar kunjungan, melainkan jembatan pengetahuan antara industri migas, pemerintah, masyarakat, dan media untuk bersama-sama membangun negeri. | doddi irawan