Home / Opini

Sabtu, 3 Januari 2026 - 11:08 WIB

Perbandingan Ekonomi Pulau Jawa dengan Beberapa Negara di Dunia

Dr. Noviardi Ferzi

Dr. Noviardi Ferzi

Oleh : Dr. Noviardi Ferzi | Pengamat Ekonomi

PULAU Jawa memegang peran yang sangat menentukan dalam membentuk volume dan struktur ekonomi nasional Indonesia. Dengan sekitar 57–58 persen penduduk Indonesia bermukim di wilayah ini, Jawa menyumbang kurang lebih 58–59 persen Produk Domestik Bruto nasional.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menempatkan fakta tersebut dalam bingkai analisis yang lebih jernih, bahwa besarnya kontribusi Jawa bukan semata capaian ekonomi, melainkan cerminan dari arsitektur pembangunan yang sangat terpusat dan belum sepenuhnya berimbang secara spasial.

Melalui pembacaan ini, tulisan ingin mengajak melihat Jawa bukan hanya sebagai mesin pertumbuhan, tetapi juga sebagai indikator struktural yang mengungkap arah, batas, dan risiko pembangunan nasional ke depan.

Kita mulai tulisan ini dengan ketimpangan antara porsi penduduk dan porsi output tersebut menunjukkan bahwa Jawa bukan sekadar pulau terpadat, melainkan episentrum akumulasi nilai tambah, pusat industri, jasa keuangan, perdagangan, dan konsumsi domestik nasional.

Baca Juga  SMA Titian Teras Tetap Menyala, Meski Tak Menyilaukan

Pada 2025, Produk Domestik Bruto nominal Pulau Jawa diproyeksikan mencapai sekitar USD 791 miliar atau setara kurang lebih Rp12.500 triliun, hampir 55 persen dari total PDB Indonesia yang berada di kisaran USD 1,4–1,45 triliun.

Sebagai contoh, jika kekuatan ekonomi Pulau Jawa dibandingkan dengan sebuah negara, maka skala ekonominya menempatkannya di atas Argentina yang PDB-nya sekitar USD 683 miliar, serta jauh melampaui Filipina dan Vietnam yang masing-masing berada di kisaran USD 494 miliar dan USD 485 miliar, bahkan hampir dua kali lipat Afrika Selatan dengan PDB sekitar USD 426 miliar.

Perbandingan ini memperlihatkan secara konkret betapa besar skala ekonomi Jawa dalam peta ekonomi global. Dominasi tersebut dibentuk oleh konsentrasi aktivitas ekonomi yang berlangsung selama puluhan tahun.

Sekitar dua pertiga industri manufaktur nasional beroperasi di Pulau Jawa, lebih dari 70 persen aktivitas jasa keuangan dan perbankan terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar di sekitarnya, serta sekitar 60 persen konsumsi rumah tangga nasional berasal dari wilayah ini.

Baca Juga  Anugerah Keterbukaan Informasi itu Kewajiban Bukan Prestasi

Selain itu lebih dari 70 persen penyaluran kredit perbankan dan mayoritas investasi asing langsung juga mengalir ke Jawa, menjadikannya pusat produksi, pusat pembiayaan, sekaligus pasar utama nasional.

Skala ekonomi Jawa menjadi semakin kontras ketika dibandingkan dengan gabungan sejumlah negara kecil. Produk domestik bruto Jawa lebih dari sepuluh kali lipat gabungan ekonomi negara seperti Kamboja, Madagaskar, Yaman, dan Suriname.

Namun keunggulan ini sekaligus membuka sisi problematik struktur ekonomi Indonesia. Di luar Jawa, sekitar 42 persen penduduk hanya menghasilkan sekitar 41–42 persen PDB nasional, dengan struktur ekonomi yang masih sangat bertumpu pada sektor primer dan ekstraktif serta nilai tambah yang relatif rendah.

Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan utama Indonesia bukan semata laju pertumbuhan, melainkan konsentrasi volume ekonomi. Selama pusat-pusat industri, logistik, jasa keuangan, dan inovasi hanya bertumpu di Jawa, maka wilayah lain akan terus berfungsi sebagai hinterland ekonomi.

Baca Juga  Aksi Ilegal Mafia Batu Bara Jambi

Pemerataan fiskal tanpa penciptaan pusat ekonomi baru hanya akan menjaga stabilitas sosial, tetapi tidak mengubah struktur ketimpangan. Sementara itu, Jawa sendiri mulai menghadapi gejala penurunan efisiensi marjinal, tercermin dari kepadatan penduduk di atas 1.200 jiwa per kilometer persegi, tekanan infrastruktur perkotaan, serta beban sosial dan lingkungan yang terus meningkat.

Dengan demikian, besarnya PDB Pulau Jawa adalah kekuatan struktural sekaligus peringatan kebijakan. Kekuatan karena Indonesia memiliki satu mesin ekonomi berskala global, namun peringatan karena tanpa transformasi spasial yang serius—melalui pembangunan kawasan industri, pelabuhan samudera, dan pusat logistik di luar Jawa, pertumbuhan nasional akan terus berlangsung secara agregat tetapi rapuh secara geografis. Jawa terlalu besar untuk diabaikan, namun juga terlalu dominan untuk dibiarkan menjadi satu-satunya penopang ekonomi Indonesia. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Benarkah Jambi Sukses Menyerap Tenaga Kerja ?

Opini

Merawat Identitas dan Menyatukan Komunitas: Peran Surau di Tanah Rantau – Sydney Australia

Opini

Nilai-Nilai Pancasila Dan Kelestarian Budaya

Opini

Cerita Ayam Geprek di Tengah Inflasi Jambi

Opini

Wartawan Dadakan Ancaman Serius Dunia Jurnalistik

Opini

KUHP Baru dan Paradoks Lapas

Opini

Problema Batubara

Opini

Jalan Khusus Batu Bara Jangan Melegalkan Stokfile dan TUKS di Zona Pemukiman, Pertanian dan Sumber Air