Home / Nasional

Minggu, 16 Juni 2024 - 02:20 WIB

Akmal Yusmar Nakhodai Asosiasi Kopi Minang, Mambangkik Batang Tarandam

Akmal Yusmar di kebun kopinya, di Jorong Sonsang, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat | dok pribadi

JAMBIBRO.COM – Asosiasi Kopi Minang (AKM) punya nakhoda baru. Akmal Yusmar, memimpin AKM untuk periode 2024 – 2027.

Terpilihnya putra Sonsang, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam ini punya tugas berat. “Mambangkik batang tarandam” perkopian Minang ke pentas nusantara dan dunia.

“Saat ini kesempatan baik. Harga kopi dunia lagi naik. Penikmat kopi makin banyak. Permintaan ekspor makin tinggi,” kata Akmal.

Akmal menjelaskan, asosiasi ini sangat penting. Menjembatani kepentingan petani, pengusaha kopi, pemerintah dan stakeholder lainnya.

Baca Juga  Journalist Divers - Kementerian Kelautan dan Perikanan Jalin Kerja Sama

“Hubungan yang saling menguntungkan,” ujar Akmal yang terpilih dalam musyawarah AKM 12 Juni 2024, menggantikan Putu Mulya Agung.

Akmal menegaskan, asosiasi harus memantapkan organisasi yang bermanfaat bagi anggota, melakukan rebranding, dan refocusing hulu kopi Minang.

“Jangka pendeknya membuat  film dokumenter dan buku terkait perkopian,” ucap Akmal.

Dijelaskan, rebranding adalah sebuah strategi pemasaran agar tidak ketinggalan zaman, sekaligus upaya mendekatkan diri dengan lebih banyak konsumen.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan membangun image atau identitas baru, sehingga mampu bersaing kembali di pasar.

“Dengan maraknya pengguna medsos, bisa dimanfaatkan secara masif dan terukur, terutama menyentuh kalangan anak muda dan luar negeri,” jelas Akmal, pendiri platform YouTube Helmi Yahya ini.

Baca Juga  Buya Mahyeldi Minta AKM Bangkitkan Kopi Minang

Sedangkan refocusing hulu kopi Minang, menggalakkan menanam kopi kembali dengan bibit unggul, dan memantapkan proses pengolahan memakai teknologi pertanian.

“Dengan sentuhan teknologi, kita harapkan bisa menarik anak-anak muda menjadi petani kopi,” jelas Akmal yang sedang membuka kebun Kopi Arabika, di Perbukitan Barisan, Sonsang, Sumatra Barat.

Tidak kalah penting, tambah Akmal, menulis tentang sejarah perkopian di Minang sejak zaman Belanda. Pembuatan buku dan film dokumenter itu untuk memotivasi bahwa kopi Minang sudah mendunia awal abad 19. 

Baca Juga  Kopi "Anak Daro" Kerinci Picu Kontroversi

Dicatat dalam buku sejarah, kopi Minang sempat berjaya pada zaman penjajahan Belanda dulu, dituangkan dalam skripsi doktor oleh WK Huitema dari University Wageningen, Belanda. 

Dalam tulisanya, WK Huitema mengulas tentang keberadaan Kopi Minang sebagai penyumbang bibit untuk ditanam ke tanah Gayo di Aceh.

Bibit-bibit kopi dari Minang itu tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah Gayo, dan sekitar Danau Laut Tawar. Pada 1926 hasil Kopi Arabika Gayo menguasai pasaran Eropa. Kejayaan Kopi Gayo berlanjut hingga kini. | DIA

 

Share :

Baca Juga

Nasional

Persepsi Optimisme Perbankan Meningkat di Tengah Ketidakpastian Global

Nasional

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Pemkab Tanjabtim Targetkan Tanam Jagung Seluas 400 Hektar

Nasional

PHR Zona 1 Tanam 21.156 Pohon, Komitmen Hijau untuk Masa Depan Indonesia

Nasional

Satgas Pasti Blokir 585 Pinjol Ilegal dan Pinpri

Nasional

OJK Cabut Izin Usaha PT Hewlett Packard Finance Indonesia

Nasional

Percepat Layanan, OJK Delegasikan Wewenang Perizinan Pasar Modal ke Daerah

Nasional

OJK Gandeng Kemenko Perekonomian Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan melalui Program Kartu Prakerja

Nasional

Pemboran PHR Zona 1 Terbukti Produktif, Hemat Sejuta Dolar