Oleh: Anil Hakim (Tukang Ketik di Jambi)
‘Apo kabar anak muda?’. Begitu isi pesan yang kerap kali terlihat, pada notifikasi Whatsappku sekitar hampir setahun terakhir. Pesan singkat itu belakangan acapkali dikirim oleh salah seorang wartawan senior di Jambi, bang Hery Farmansyah atau juga akrab disapa bang Hery Rawas.
Bukan tanpa alasan, pesan itu dikirimkan Bang Hery, ketika dalam jangka beberapa waktu kami tidak berkomunikasi atau sekedar bertemu. Sesekali sengaja aku berkunjung kerumahnya, sekedar untuk mengetahui perkembangan kondisi atau berbincang ringan dengannya. “Abang dari kemaren nak ngubungi, kemanolah Anil ni? ,” ucap Bang Hery tersenyum yang memang jarang luput darinya.
Mulai dari perkembangan terkini sosial politik di Jambi, dunia pers, perjalanan kehidupannya serta beberapa obrolan ringan lain menjadi bahan diskusi di setiap perjumpaan kami. “Oke anak muda, jadi itu dulu kuliah kito beberapa SKS hari ini,” ujar Bang Hery berseloroh setiap kali mengakhiri perjumpaan kami.
Sabtu lalu, dirinya berpulang menghadap sang pencipta. Hal itu kuketahui, melalui pesan berantai yang membanjiri grup Whatsapp milikku. Responku saat itu antara terkejut atau tidak, aku juga tidak paham, sulit untuk mengingat dan menjelaskannya kembali. Tapi kala itu, yang mungkin masih terekam di memori adalah aku merenung dan sepintas terpikir ‘alangkah singkatnya hidup ini’.
Awal Perjumpaan
Sosok Bang Hery sendiri sebenarnya telah lama kudengar dan tak asing di telinga. Tapi mungkin, kami baru mulai berkomunikasi secara intens sekitar 2-3 tahun terakhir sebelum kepergiannya. Sebelumnya, kami beberapa kali bertemu dan bertegur sapa, hingga akhirnya kami dipertemukan dalam satu ikhtiar yang sama sekitar dua tahun lalu.
Sejak saat itu, kami kerap berkomunikasi dan bertukar pandangan. Waktu demi waktu berlalu, hingga akhirnya ikhtiar yang kami lakukan pun tidak mencapai tujuannya. Seharusnya, karena jarak usia yang terpaut cukup jauh dan mungkin bisa dibilang kami tidak se-zaman dalam dunia pers, intensitas komunikasi akan berkurang. Justru sebaliknya, Bang Hery semakin sering mengontakku.
Tanpa ada maksud dan tujuan tertentu, terkadang ia hanya sebatas mengajak bertemu atau menikmati segelas kopi. Bahkan suatu kali, aku yang tidak terlalu menggemari permainan domino, karena beberapa kali ajakannya mau tidak mau ‘mengimbangi’, melihatnya bermain dengan sejawatnya yakni Letkol (Purn) Firdaus (Pak Fir), Bang Mansyur & CEO Radar Tanjab, Bang Yasmin Simamora.
Tidak ada taruhan yang berarti, yang terlihat hanya telinga memar berbalut karet, hingga ketaatan lalu lintas tingkat tinggi dari seorang pengendara yang memakai helm tanpa kendaraan. Selang beberapa waktu permainan pun terhenti, rupanya adzan berkumandang, tanda permainan harus jeda. Begitu aturan di kelompok tersebut, yang sudah menjadi kebiasaan Bang Hery dan teman-teman.
Nabi-nabi Kecil
Walaupun tak jarang berkomunikasi, tapi intensitas pertemuan kami setelahnya cukup terbatas. Hal tersebut dikarenakan aku tahu, hampir setiap hari Bang Hery bersama temannya menyalurkan hobi bermain domino, di kawasan Korem atau lainnya. Mungkin hanya hujan deras yang menjadi penanda tanggal merah kegiatan tersebut.
Bang Doddi yang sering bersamaku waktu itu, juga sepertinya hafal betul dengan kebiasaan temannya itu dan mengatakan, “Kalo nak nyari Hery di Korem tulah dio,” ucap Bang Doddi santai sambil tersenyum. Aku pun menjalani aktivitas rutin seperti biasanya, menggarap berita atau sesekali menulis opini ‘Dima Taragak’.
Suatu waktu, aku iseng menulis artikel opini yang kukirimkan padanya. Tak ada sesuatu istimewa, dari tulisan sederhana yang kukirimkan padanya. Namun, isinya yang sedikit aku plesetkan mengenai dirinya dan Bang Doddi, rupanya memantik semangat Bang Hery untuk beropini dan berimajinasi kembali.
Tak butuh waktu lama bagi Bang Hery untuk mengeluarkan jurus lamanya. Kami pun seperti berbalas pantun, ditambah keusilan Bang Doddi yang melabeli namaku sebagai penulis sesukanya, semakin menggelitik perut kami dalam aksi berbalas pantun tersebut.
Bang Hery pun kemudian mengirimkan tulisan balasannya kepadaku. Aku baca utuh dari awal sampai akhir. Dalam tulisannya, ia menyampaikan tentang diksi yang beberapa kali dia ucapkan, baik ketika mengobrol denganku maupun lewat tulisannya mengenai ‘Nabi-nabi kecil’.
Entah dari mana Bang Hery mendapatkan istilah tersebut, yang pasti dirinya seolah ingin menegaskan kebanggaannya, pada profesi yang begitu ia cintai dan syukuri tersebut. Bang Hery meyakini, bahwa profesinya sebagai wartawan adalah tugas mulia, untuk menyampaikan kabar dan informasi tentang kebenaran.
Dji Sam Soe Terakhir
Setelah beberapa waktu jarang bertemu, akhirnya kami dipertemukan kembali dalam agenda Media Gathering FJM Jambi. Kami berbeda bus, tapi setiap kali berhenti di perjalanan, entah dia yang datang menghampiriku atau sebaliknya. Sesekali kami bercanda dan tertawa bersama, sambil ia menikmati rokok andalannya, Dji Sam Soe ditemani kopi hitam tanpa gula.
Sekitar 1 jam menjelang sampai di tujuan, kami berhenti sebentar untuk beristirahat dan menikmati kopi hangat di sebuah masjid besar. Disana mungkin menjadi salah satu kenangan tak terlupakan bersamanya. Tanpa dikondisikan sebelumnya, dengan wajah serius, Bang Hery, aku dan Bang Wiliatno tertawa terpingkal melihat ekspresi wajah polos wanita penjual kopi, yang percaya bahwa kami akan menggarap pekerjaan konstruksi di daerah tersebut.
Ketika aku pergi ke kamar kecil ia pun menunggu, kemudian mengajakku untuk berfoto bersama di depan icon masjid tersebut. Sontak aku yang jarang berfoto mengaminkan ajakannya, mengabadikan momen perjalanan dari Jambi menuju Lampung tersebut. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan yang tak berapa lama lagi akan sampai.
Setibanya di Kota Bandar Lampung kami langsung menuju kamar masing-masing. Walaupun kami berbeda kamar, posisinya tidak terlalu jauh, masih berada di lantai yang sama. Aku pun terbilang sering, mampir ke kamar Bang Hery yang sekamar dengan Bang Doddi, berbincang dan bercanda bersama. Entah kenapa momen di Lampung tersebut aku dan Bang Hery cukup intens bersama.
Bahkan, ketika selepas makan malam, aku dan Bang Hery tertinggal rombongan yang menggunakan bus. Akhirnya kami berdua satu mobil bersama pihak SKK Migas menyusul belakangan. Setibanya di Hotel, Bang Hery pun merasa gelisah karena Dji Sam Soe favoritnya tidak ada di saku, begitu juga denganku. Aku yang awalnya berpikir dua kali karena posisi warung cukup jauh, akhirnya pergi berjalan kaki membeli rokok sekaligus Dji Sam Soe untuk Bang Hery.
Sesampainya di penginapan, aku langsung pergi ke kamar Bang Hery dan Bang Doddi untuk memberikan rokok tersebut. Ia pun heran, karena sebatas inisiatif pribadiku tanpa diketahuinya. Kami bertiga pun kembali mengobrol dan melanjutkan perbincangan sore hari tadi yang terjeda. Beberapa teman lain mengobrol di lantai bawah dan sebagian beristirahat di kamar masing-masing.
Tak lama kemudian, daya baterai gawai milikku kritis, aku pergi ke kamarku dan menyampaikan kepada Bang Hery dan Bang Doddi bahwa aku akan kembali. Setelah aku tiba, kulihat pintu kamar yang tadi sengaja aku ganjal tertutup. Tanpa menunggu lama, aku kembali ke kamarku dan beranggapan bahwa barangkali mereka ingin beristirahat.
Selang 5-10 menit aku di kamar, sambil mengecek daya baterai HP, kulihat ada panggilan tak terjawab dari Bang Wiliatno dan Bang Doddi. Akhirnya aku coba hubungi Bang Wili, dengan rasa tak percaya, dia mengabarkan bahwa Bang Hery dibawa ke IGD, di sebuah Rumah Sakit tak jauh dari penginapan. Sontak saja aku terkejut, karena baru sekitar 10-15 menit lalu kami berbincang.
Rupanya, tak lama aku keluar dari kamar mereka, Bang Hery tiba-tiba mengalami sesak nafas hebat, hingga Bang Doddi segera menghubungi beberapa teman, untuk membawa Bang Hery kerumah sakit. Akhirnya setelah kejadian malam itu, beberapa teman secara bergantian menemani Bang Hery yang harus dirawat inap.
Tak lama, kami pun harus segera kembali ke Jambi sesuai jadwal bersama bus. Dikarenakan kondisi fisik Bang Hery yang belum memungkinkan, Bang Doddi yang sekamar dengannya, terpaksa harus pulang belakangan mendampingi Bang Hery bersama satu teman EO, Hamdani. Setelah beberapa hari dirawat, kami yang tiba di Jambi lebih dulu, menyambut kedatangan Bang Hery.
Sejak saat itu, dirinya rutin melakukan Check Up ke Dokter didampingi oleh istri tercinta. Aku pun terkadang menanyakan kondisi terkini kesehatannya, sesekali datang langsung kerumahnya sekaligus berniat berbincang ringan. Tapi semenjak sakit itu menderanya, kehidupan Bang Hery berubah total.
Tidak ada asap rokok, kopi dan beberapa hal lain yang menjadi kebiasaannya sejak lama. Hal ini tentu membuat intensitas komunikasi kami pun kembali berkurang. Bahkan, beberapa kali sengaja aku hanya sebatas mampir dan duduk sebentar dirumahnya.
Menjemput Keabadian
Keseharian Bang Hery sudah semakin tertata rapi, dengan asupan bergizi dan rutinitas olahraga ringan setiap pagi bersama sang istri. Bagi sejawat yang sehari-hari biasa bercengkerama dengan wartawan yang identik dengan sapaan ‘Ndo’ tersebut, ini merupakan sesuatu yang tidak mengasyikkan.
Jarang bertemu, tidak dapat bersenda gurau seperti biasanya serta tak dapat merokok dan ngopi bersama lagi. Tetapi tampaknya menjadi sesuatu yang harus dimaklumi, mengenai pilihan pola hidup baru yang berusaha ia terapkan tersebut. Namun, lebih dari itu, yang kuperhatikan Bang Hery tidak hanya sekedar merubah pola makan atau olahraganya saja.
Terdapat dimensi spiritualitas yang semakin mendalam pada dirinya. Ketika singgah kerumahnya, beberapa kali aku lihat, lisannya tengah sibuk berdzikir atau bershalawat, disela-sela perbincangan kami. Jika sebelumnya mungkin hanya sebatas shalat berjama’ah saja, kali ini seusai shalat ia cukup lama bangkit dari tempat shalatnya, sembari lisan yang terus berdzikir, bershalawat atau berdo’a.
Beberapa kali berbincang dengannya pun, pembicaraannya terkadang menyentuh aspek spiritualitas kehidupan sehari-hari. Bahkan, terkadang ia yang lebih dahulu memulai bercerita mengenai kisah sosok ulama seperti Alm. KH. Helmy Abdul Majid (Guru Helmy). Walau kadangkala aku tahu apa yang coba diceritakannya, seringkali aku hanya memperhatikan dan mencoba lebih fokus pada suasana kebatinannya.
Sebatas yang bisa aku tangkap, Bang Hery menurutku seperti orang yang telah ‘selesai’ dengan dunianya. Bukan hanya dari perkataan ataupun penyampaiannya saja, dari caranya menyikapi kehidupan khususnya sekitar setahun terakhir, yang kulihat Bang Hery seperti hanya sekedar saja menjalani atau memenuhi kebutuhan dunianya. Terkadang, diakhir ceritanya tadi, sambil tertawa ia mengatakan “Tapi dindo ndak usah niru abang tadi, dindo masih mudo,” ujar Bang Hery dengan senyuman khasnya.
Berpulangnya Bang Hery beberapa hari lalu, menurutku hanya merupakan konfirmasi, bahwa ia telah meninggalkan dunia yang fana ini. Sejatinya, jauh sebelum itu atau setidaknya setahun terakhir kehidupannya, Bang Hery telah pergi meninggalkan kehidupan dunia yang penuh tipu daya serta melalaikan ini.
Wartawan yang terkenal karena sosoknya yang ramah dan mampu berbaur dengan berbagai kalangan tersebut, seperti telah lama mempersiapkan bekalnya untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih abadi dan nyata. Wallahu a’lam bisshawab…







