Home / Opini

Kamis, 18 Juni 2026 - 00:58 WIB

Kepercayaan Pasar, Variabel Tak Kasat Mata yang Menentukan Arah Rupiah dan IHSG

Ilustrasi by Dola

Ilustrasi by Dola

Oleh: Noviardi Ferzi

Dalam ekonomi modern, kekuatan pasar keuangan sering kali tidak hanya ditentukan oleh indikator fundamental seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, atau neraca perdagangan. Ada satu variabel yang bersifat tidak berwujud namun memiliki daya penggerak sangat kuat, yaitu kepercayaan pasar (market confidence).

Variabel inilah yang kerap menjadi penentu utama arah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek hingga menengah.

Fenomena sepanjang 2025–2026 menunjukkan bahwa pasar Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan persepsi investor. Ketika optimisme terhadap prospek ekonomi dan kredibilitas kebijakan meningkat, modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Konsekuensinya terjadi peningkatan permintaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar menguat, sementara permintaan saham naik dan mendorong penguatan IHSG.

Data menunjukkan bahwa pada akhir 2025 hingga awal 2026, ketika kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia membaik, IHSG mampu mencapai rekor tertinggi hingga berada pada kisaran 8.700 poin dan rupiah relatif stabil di sekitar Rp16.700 per dolar AS.

Baca Juga  Indonesia Masih Kokoh di Tengah Gejolak Global

Kondisi tersebut merefleksikan bahwa investor tidak hanya melihat kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga melakukan pricing terhadap ekspektasi masa depan.

Sebaliknya, koreksi tajam IHSG dan pelemahan rupiah pada periode tekanan pasar memperlihatkan sisi lain dari psikologi investasi. Ketika muncul ketidakpastian kebijakan dan persepsi risiko meningkat, investor melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko. Arus modal keluar (capital outflow) menyebabkan permintaan terhadap rupiah menurun sehingga nilai tukar tertekan, sementara pelepasan saham memperdalam koreksi IHSG.

Dalam perspektif Behavioral Finance, kondisi ini dapat dijelaskan karena investor tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan rasionalitas sempurna. Sentimen, persepsi risiko, dan keyakinan terhadap kemampuan pemerintah serta Bank Indonesia menjaga stabilitas ekonomi sering menjadi faktor yang mempercepat perubahan harga aset. Pasar bergerak bukan hanya berdasarkan fakta ekonomi, tetapi juga berdasarkan cerita (narrative), ekspektasi, dan tingkat keyakinan terhadap arah kebijakan.

Baca Juga  Pertumbuhan Tak Merata, Kelas Menengah Mulai Hilang

Oleh sebab itu, penguatan rupiah dan kebangkitan IHSG pada Juni 2026 harus dipahami sebagai indikator pulihnya kepercayaan (restoration of confidence). Pasar memberikan sinyal bahwa stabilitas kebijakan, komunikasi ekonomi yang lebih baik, dan kepastian arah pembangunan mulai mendapatkan respons positif dari investor.

Namun, ada pelajaran penting yang perlu dicatat. Kepercayaan pasar adalah aset ekonomi yang sangat rapuh. Fundamental ekonomi yang baik tidak otomatis menghasilkan pasar yang kuat apabila tidak diiringi kredibilitas kebijakan. Sebaliknya, kebijakan yang dipercaya pasar dapat meredam gejolak bahkan ketika ekonomi sedang menghadapi tekanan.

Baca Juga  Case in Jambi ; PMK No 68 Tahun 2024 Akan Jadi Jalan Pintas Ketimpangan

Karena itu, agenda ekonomi ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga mengelola ekspektasi pasar. Pemerintah dan otoritas moneter harus mampu menghadirkan konsistensi kebijakan, transparansi pengambilan keputusan, disiplin fiskal, serta komunikasi publik yang meyakinkan. Dalam era keuangan global yang bergerak sangat cepat, kepercayaan menjadi mata uang yang sama berharganya dengan cadangan devisa.

Dengan demikian, rupiah dan IHSG dapat dibaca sebagai barometer psikologi ekonomi nasional. Keduanya tidak hanya mengukur kesehatan ekonomi Indonesia, tetapi juga mengukur seberapa besar dunia percaya terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas dan menciptakan masa depan ekonomi yang menjanjikan. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Diplomasi Berbudi, Agar Tak Ada yang Tersakiti

Opini

Industri Hulu Migas Harus Bermanfaat untuk Rakyat

Opini

HUT ke-63 TVRI: Terdepan Melayani di Tengah Gempuran Media Digital

Opini

Catatan Program Bedah Rumah, Ratusan Dibedah, Ribuan Masih Terabaikan

Opini

Kritik dan Berisik

Opini

Aktivis Sarat Kepentingan: Tajam ke Lawan, Tumpul ke Kawan — Siapa yang Sebenarnya Sedang Dikawal?

Opini

Case in Jambi ; PMK No 68 Tahun 2024 Akan Jadi Jalan Pintas Ketimpangan

Opini

Peran Media dalam Pendidikan Demokrasi