GUBERNUR Jambi, Al Haris, mengapresiasi tingginya lonjakan indikator pembangunan dan deretan inovasi yang berhasil diraih Kabupaten Bungo. Momen berharga itu ditegaskannya pada Rapat Paripurna DPRD Bungo, memperingati HUT ke-61 daerah itu, Senin, 19 Oktober 2026.
Gubernur hadir bersama Ketua TP PKK Provinsi Jambi, Hesnidar Haris. Acara yang berlangsung di Gedung DPRD Bungo tersebut dibuka oleh Ketua DPRD Bungo, Muhamad Adani.
Dalam pidatonya, Gubernur menegaskan, usia 61 tahun memperlihatkan dinamika perjalanan pembangunan yang penuh tantangan. Bungo berhasil memainkan peran sangat strategis sebagai beranda terdepan Provinsi Jambi.
Bukti nyata keberhasilan kerja Pemkab Bungo mewujudkan visi Bungo BARU melalui lonjakan angka indikator makro. Pertumbuhan ekonomi daerah ini melonjak hingga 4,44 persen pada 2025, dari posisi 3,36 persen pada 2024.
Peningkatan signifikan juga terjadi pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang melesat naik 1,31 poin menjadi 75,15. Selain itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menembus 69,97 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berhasil ditekan ke angka 4,33 persen dan angka kemiskinan berada pada level 5,17 persen.
“Capaian ini patut diapresiasi sebagai bagian dari hasil kerja bersama. Namun, juga perlu jadi perhatian bersama, penanganan stunting yang harus diperkuat secara terpadu,” ujar Al Haris.
Gubernur minta para kepala daerah tidak mengandalkan APBD semata. Peluang investasi dan program pusat harus terus dikejar, demi menutupi keterbatasan anggaran daerah. Memang anggaran kecil. Tapi peluangnya besar.
“Kalau kita terus mencari peluang, insya Allah ada jalan. Seperti Sekolah Rakyat di Senang Lelang, provider sudah kontrak, itu di Bungo. Luar biasa,” ucap Al Haris.
Apresiasi juga diberikan kepada Kabupaten Bungo dan Merangin yang berhasil menekan angka kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya. Kesadaran masyarakat dua kawasan itu dinilai sangat tinggi dalam menjaga lingkungan dari ancaman api.
“Bungo dan Merangin tidak termasuk angka kebakaran lahan yang tinggi. Ini bagus. Tingkat kesadarannya cukup tinggi,” kata Al Haris.
Namun demikian, secara keseluruhan wilayah Jambi masih berkutat menghadapi bencana kabut asap. Sebaran asap bahkan mulai meluas hingga memicu keluhan dari negara tetangga. Jarak Bungo – Tebo dengan Muaro Jambi berdekatan, sehingga asap bisa masuk ke Bungo karena arah angin.
Seluruh elemen daerah diminta meningkatkan kolaborasi secara masif, demi menanggulangi ancaman bahaya asap. Langkah proaktif dari para pemimpin wilayah sangat dibutuhkan untuk memadamkan api.
Gubernur minta seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla. Ia mengajak seluruh Bupati dan Wali Kota proaktif memadamkan karhutla di wilayah masing-masing.
Kesulitan penanganan karhutla dinilai bersumber dari kebiasaan turun-temurun warga saat membuka area perkebunan. Pola lama itu harus digeser bertahap melalui pemahaman serta edukasi berkala.
“Tidak mudah menghentikan budaya nenek moyang kita. Setiap kemarau bakar lahan, budaya manak dan menebas. Padahal sudah ada Inpres melarang. Pelan-pelan budaya ini harus diubah, edukasi masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar,” ungkap Al Haris.
Harmonisasi hubungan antara eksekutif, legislatif, dan aparat keamanan di Bungo turut mendapat pujian. Sinergi yang kuat diyakini sanggup menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan.
Bupati Bungo, Dedi Putra, mengungkapkan perjalanan panjang daerahnya diwarnai gabungan rekam jejak keberhasilan dan tantangan masa depan. Seluruh kemajuan saat ini tidak lepas dari fondasi kokoh yang ditanamkan para pendahulu.
“Pembangunan yang kita nikmati hari ini tidak terlepas dari jasa dan pengabdian serta kerja keras para pemimpin terdahulu,” katanya.
Rasa hormat atas jasa tokoh masa lalu perlu diimbangi dengan komitmen menyelesaikan berbagai agenda pembangunan yang tersisa. Sinergi kolektif menjadi kunci penting, untuk menuntaskan pekerjaan rumah tersebut.
“Kita patut menghargai fondasi yang telah dibangun, sekaligus menyadari masih terdapat pekerjaan rumah dan cita-cita pembangunan yang harus dilanjutkan dan dituntaskan bersama,” tambahnya.
Dedi mengakui proses kepemimpinan daerah dengan keterbatasan finansial bukanlah tugas yang ringan. Namun, semangat kebersamaan diyakini mampu menembus batas keterbatasan anggaran tersebut.
“Memimpin daerah dengan beragam potensi dan tantangan, bukan tugas ringan. Dengan kebersamaan, dukungan dan kerja keras semua, saya yakin setiap persoalan yang dapat diatasi. Dengan kondisi keuangan sangat terbatas, kita harus memanfaatkan peluang sebaik mungkin,” tegasnya. | ril







