Home / Bang Bro

Senin, 12 Oktober 2026 - 01:38 WIB

Jambi dan Langit Lupa Cara Biru

Doddi Irawan

Doddi Irawan

Penulis: Doddi Irawan | Jurnalis tinggal di pinggiran Kota Jambi

PAGI di Jambi itu aneh akhir-akhir ini. Matahari ada, tapi malu-malu. Jam 7 pagi, harusnya terang, ini masih seperti jam 6 sore yang kelamaan.

Bau? Jangan ditanya. Kayak ada yang bakar sampah raksasa di belakang rumah. Padahal, yang kebakar jauh di sana, di lahan gambut Muaro Jambi, Tanjung Jabung, Batanghari, dan lain-lain

Kita menyebutnya kabut asap. Padahal asap beneran.

Ketika buka Instagram, TikTok, Facebook, isinya sama. Anak sekolah pakai masker. Ibu-ibu mengeluh jemuran bau asap. Bapak-bapak ojek online matanya merah. Di kolom komentar, satu nama selalu muncul: Gubernur.

“Halo Gubernur, Jambi sudah sesak”.

“Pak Gub kemana?”

Jujur, kalau jadi Gubernur saat ini, pusingnya pasti dobel. Napas warganya sesak, nama dia juga sesak dihujat netizen.

Tapi, kalau kita mau jujur-jujuran, apakah salah Gubernur semua?

Kemarin saya coba keliling, nengok-nengok dan nanya-nanya. Ternyata, di balik langit kelam itu, orang-orang pemerintah tidak diam. Cuma, memang, kerja mereka tidak seviral hujatan.

Di provinsi, Pemprov Jambi itu sudah siaga darurat sejak awal. BPBD, Dinas Kehutanan, TNI, Polri, Manggala Agni, mereka bikin posko terpadu.

Baca Juga  Pelindo Jambi Bersama Insan Maritim Salurkan Bantuan Bencana Sumatra

Gubernur bolak-balik rapat, minta bantuan helikopter water bombing ke BNPB. Karena, kalau sudah gambut yang terbakar, disiram pakai ember itu lelucon. Harus dari atas.

Turun ke kabupaten/kota, ceritanya beda-beda, tapi nadanya sama: semua keteteran.

Di Muaro Jambi, Bupatinya sampai turun langsung ke tempat-tempat titik api paling bandel. Di Tanjung Jabung Barat dan Timur, yang gambutnya luas seperti karpet, damkar dibantu polisi dan tentara berjibaku memadamkan api manual. Kaki kadang masuk lumpur hitam.

Di Kota Jambi, wali kota sibuk bagi-bagi masker gratis, sekolah didaringkan, bikin imbauan jangan keluar rumah kalau tidak sangat penting.

Di Bungo, Tebo, Sarolangun, patroli cegah bakar lahan diperketat. Ada yang sampai bikin satgas desa, warga dilibatkan jaga lahan sendiri.

Mereka kerja. Hanya saja, api itu lebih cepat dari berita.

Satu orang iseng bakar lahan 2 hektar mau menanam sawit, tapi angin kencang, gambut kering, dalam 3 jam jadi 20 hektar kebakaran lahan.

Baca Juga  Pemkot Jambi dan Baznas Teken MoU, Khitanan Gratis Kini Tersedia di Seluruh Puskesmas

Satu batang rokok dibuang sembarangan di pinggir jalan, bisa bakar 50 hektar. Kita padamkan di hulu, muncul di hilir.

Lalu, kenapa Gubernur yang dihujat? Karena, di era ini, yang terlihat di kamera itulah yang dianggap kerja. Padahal, karhutla ini bukan sinetron satu pemeran. Ini film kolosal.

Jadi, solusinya apa? Kalau marah-marah di kolom komentar bisa padamkan api, Jambi sudah bersih sejak kemarin.

Saya catat beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1. Berhenti jadi pahlawan kesiangan.

Jangan baru teriak “Mana pemerintah!” pas asap sudah di hidung. Karhutla itu siklus tahunan. Bulan Juni – September itu musimnya. Kalau ada keluarga punya lahan, ingatkan dari sekarang: jangan bakar. Dendanya 10 tahun penjara, ruginya buat satu provinsi.

2. Pemprov harus galak, bukan hanya rajin.

Selama ini kita rajin padamkan. Sesekali harus galak ke pelaku. Sudah banyam yang teriak lantang: “Pelaku Jangan Kasih Ampun.”

Itu yang ditunggu warga. Bukan hanya foto memadamkan api, tapi foto pelaku ditangkap, perusahaan yang bandel disegel. Efek jera itu penting.

Baca Juga  Swiss-Belhotel Jambi Gelar Aksi Tanam Pohon Sambut HUT ke-38 Swiss-Belhotel International

3. Teknologi desa, bukan cuma teknologi kota.

Banyak desa di Jambi sudah punya sumur bor gambut, tapi rusak. Embung air ada, tapi kering. Pemprov dan kabupaten/kota harus audit lagi. Satu sumur bor yang hidup bisa selamatkan 10 hektar. Lebih murah dari sewa satu helikopter.

4. Buat kita warga biasa: jadi mata, bukan cuma jadi paru-paru.

Kalau melihat titik api, jangan cuma story-in. Lapor ke BPBD atau satgas karhutla, atau aplikasi Lapor Karhutla. Jika ada tetangga mau bakar, cegah. Malu sedikit tidak apa, daripada sesak satu kota.

Jambi ini rumah kita. Langit birunya itu bukan tugas Gubernur saja, bukan tugas Bupati saja. Itu tugas kita yang setiap hari hirup udaranya.

Asap ini pasti akan hilang, seperti tahun-tahun lalu. Pertanyaannya, tahun depan kita mau menghirup apa lagi? Asap yang sama, dengan hujatan yang sama?

Atau kita mulai jaga dari sekarang, selagi langit masih mau memberi kita biru kedua kalinya. ***

Share :

Baca Juga

Bang Bro

Jangan Panggil Ketua Lagi

Bang Bro

Jalan Tol Jambi, Membelah Waktu, Mendekatkan Jarak

Bang Bro

Dari Ajang Musda XI Golkar Jambi, di Balik Aklamasi dan Aspirasi

Bang Bro

“Bos” Palsu, Pindang Kota Baru dan Obrolan Kopi Tanpa Gula

Bang Bro

Sportivitas dan Dedikasi Seorang Idris Siregar

Bang Bro

Palestina Merdeka, Antara Doa, Diplomasi, dan Akhir Zaman

Bang Bro

Saat Suara Tak Didengar, Amarah Bicara

Bang Bro

Stockpile Batu Bara dan Kedaulatan Warga