Home / Reportase

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:41 WIB

SiPongi Ungkap Kendala Satgas Karhutla Tangani Kabut Asap

Gubernur Jambi memantau sebaran titik api dan pergerakan angin melalui aplikasi SiPongi, Jumat | dki-pj

Gubernur Jambi memantau sebaran titik api dan pergerakan angin melalui aplikasi SiPongi, Jumat | dki-pj

APLIKASI SiPongi mendeteksi sebaran titik api dan pergerakan angin di sejumlah wilayah dalam Provinsi Jambi.

Melalui pemantauan di Posko Udara Satgas Karhutla, Jumat, 9 Oktober 2026, terungkap berbagai kendala berat yang merintangi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

Berdasarkan data layar monitor, sebaran api terdeteksi di Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, hingga Tebo. Meski demikian, kepungan kabut asap pekat di wilayah Jambi terutama dipicu oleh pola pergerakan angin.

Baca Juga  DPRD Tampung Aspirasi Relokasi Stockpile Batu Bara Aur Kenali, Menanti Keputusan Gubernur...

“Hal yang tidak bisa dipungkiri, arah angin semuanya terkunci dan menuju ke Jambi,” kata Gubernur Jambi, Al Haris, usai memantau sebaran titik api dan pergerakan angin melalui SiPongi.

Didampingi Kalak BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, Gubernur menyebut para personel di lapangan terus dioptimalkan, untuk memadamkan api darat melalui penyiraman dan pembuatan sekat kanal.

Ia menggarisbawahi perbedaan besar antara memadamkan kobaran api dan mengatasi kabut asap kiriman.

Baca Juga  Innova Ditimpa Pohon, Anggota Polres Tanjabtim Meninggal

“Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, Insya Allah tim berusaha memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikan. Kita hanya bisa memohon kepada Allah, agar arah angin tidak ke Jambi, atau hujan segera turun,” katanya.

Upaya pemadaman lewat udara juga mengalami kemacetan, akibat terbatasnya jarak pandang. Jarak pandang yang sangat pendek menghambat operasi penerbangan armada pemadam ke lokasi kebakaran.

Baca Juga  Al Haris dan Menteri Bappenas Cek KBCN di Candi Muarojambi

“Kendala kami, pertama, tidak bisa melakukan water bombing, karena sampai hari ini jarak pandang masih 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” ujar Al Haris.

Risiko keselamatan penerbangan memaksa tim menunda pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Tim operasi gabungan tetap disiagakan untuk segera menerbangkan pesawat TMC, apabila kondisi awan serta jarak pandang membaik pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. | dod

Share :

Baca Juga

Reportase

Misteri di Balik Kasus Pencabulan Pejabat Pemprov Jambi

Reportase

Kabut Asap Makin Pekat Pemkot Jambi Liburkan Sekolah Selama Tiga Hari

Politik

Kemas Alfarabi Sarankan Keluarga “Dokter Dituduh Maling” Minta Bantuan Komnas HAM

Reportase

Diduga Ribuan Sertifikat di Kabupaten Tebo Berada di Kawasan Hutan

Reportase

Strategi Maulana – Diza Atasi Banjir, Aksi Nyata di Depan Mata

Reportase

Tarung Derajat Andalan Jambi di PON Aceh-Sumut

Reportase

Didukung Pemerintah Kota Jambi, Pokdarwis Rentang Gelar Lomba Perahu

Reportase

Elite Textile & Tailor Diresmikan, Kota Jambi Bisa Jadi Pusat Mode Sumatra