Home / Opini

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:58 WIB

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi bagi Kesejahteraan Masyarakat atau Celah Terjadinya Korupsi?

Wanda Adi Saputra, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

Wanda Adi Saputra, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

Oleh: Wanda Adi Saputra | Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang saat ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan pelajar melalui penyediaan makanan bergizi secara gratis. Tujuan utama dari program ini adalah mengurangi angka stunting, meningkatkan kesehatan anak, serta menciptakan generasi yang lebih cerdas dan produktif di masa depan.

Menurut saya, MBG adalah program yang memiliki tujuan yang sangat baik dan layak untuk didukung. Di Indonesia, masih banyak keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi sehingga tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka. Akibatnya, tidak sedikit anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan atau mengonsumsi makanan yang kurang memenuhi standar gizi. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kesehatan, konsentrasi belajar, dan perkembangan mereka.

Melalui program MBG, pemerintah berupaya memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Anak-anak yang mendapatkan makanan bergizi secara rutin akan memiliki kondisi fisik yang lebih sehat, daya tahan tubuh yang lebih baik, serta kemampuan belajar yang lebih optimal. Dalam jangka panjang, program ini dapat menjadi investasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia karena kualitas generasi mendatang sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan gizi sejak usia dini.

Baca Juga  Diza Tinjau Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis di SMP 17 dan SDN 66

Selain memberikan manfaat bagi anak-anak, program ini juga berpotensi membantu perekonomian keluarga. Dengan adanya bantuan makanan bergizi di sekolah, beban pengeluaran orang tua dapat berkurang. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, hal ini tentu menjadi bantuan yang cukup berarti. Oleh karena itu, MBG tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, saya juga melihat adanya tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu tantangan terbesar adalah besarnya anggaran yang digunakan untuk menjalankan program ini. Semakin besar anggaran yang dikelola, semakin besar pula risiko terjadinya penyimpangan apabila sistem pengawasan tidak berjalan dengan baik. Risiko tersebut dapat berupa penggelembungan harga bahan makanan, pengurangan kualitas makanan, manipulasi laporan penggunaan dana, hingga praktik korupsi yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Baca Juga  Pemkab Muarojambi Dukung Penuh MBG dan Kopdes Merah Putih

Sebagai mahasiswa, saya memahami bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap potensi korupsi bukanlah sesuatu yang muncul tanpa alasan. Berbagai kasus korupsi yang pernah terjadi dalam program bantuan maupun proyek pemerintah membuat masyarakat menjadi lebih kritis terhadap penggunaan anggaran negara. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai apakah MBG benar-benar akan menjadi solusi bagi kesejahteraan masyarakat atau justru menjadi celah terjadinya korupsi merupakan hal yang wajar untuk dibahas.

Meskipun demikian, menurut saya tidak tepat jika MBG langsung dianggap sebagai sarang korupsi. Pada dasarnya, korupsi tidak terletak pada programnya, melainkan pada oknum yang menyalahgunakan kewenangan. Program yang baik tetap dapat memberikan manfaat yang besar apabila dijalankan dengan penuh tanggung jawab, transparansi, dan integritas. Karena itu, fokus utama seharusnya bukan pada menolak programnya, melainkan memastikan bahwa pelaksanaannya berjalan secara jujur dan akuntabel.

Pemerintah perlu menerapkan sistem pengawasan yang ketat dan terbuka dalam setiap tahapan pelaksanaan MBG. Informasi mengenai penggunaan anggaran, proses pengadaan bahan makanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat harus dapat diakses dan diawasi oleh publik. Selain itu, keterlibatan masyarakat, media, akademisi, dan lembaga pengawas juga sangat penting untuk memastikan bahwa program ini benar-benar berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Baca Juga  Soto MBG Diinvestigasi, 104 Korban Dirawat

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini dapat menjadi langkah strategis dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan. Akan tetapi, keberhasilan program ini sangat bergantung pada tata kelola, transparansi, dan pengawasan yang dilakukan oleh semua pihak.

Sebagai mahasiswa UIN STS Jambi, saya melihat MBG bukan sebagai sarang korupsi, melainkan sebagai program yang berpotensi membawa manfaat besar bagi masyarakat. Namun, manfaat tersebut hanya dapat terwujud apabila pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat mampu menjaga integritas serta memastikan bahwa setiap anggaran yang digunakan benar-benar kembali kepada rakyat sesuai tujuan program. ***

Share :

Baca Juga

Opini

Jerat Setan di Partai Ka’bah

Opini

Dillah Berpeluang Miliki Legacy: Bu Bupati Air Bersih di Tanjabtim…?

Opini

Membaca Kedalaman “Trust” Bank Jambi Melalui Lensa Resiliensi Ekonomi, Mengapa Kita Masih Harus Percaya?

Opini

Abdul Kadir Karding – Kesederhanaan Seorang Perantau dalam Istana

Opini

Bukan Romi, Lawan Berat Al Haris Justeru Fadhil

Opini

Kaleidoskop Ekonomi Jambi Tahun 2025

Opini

Jangan Biarkan Mendalo Terus Terjebak Batu Bara

Opini

Jalan Terjal Sang Petarung : Dari Terusan ke Senayan