Home / Reportase

Senin, 13 April 2026 - 10:08 WIB

Muaro Jambi Hadapi Ancaman Ekonomi Biaya Tinggi

Ilustrasi by Copilot

Ilustrasi by Copilot

JAMBIBRO.COM – Penurunan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Muaro Jambi dari 7,97 persen pada 2022 menjadi 4,50 persen pada 2025 dinilai sebagai peringatan serius atas rapuhnya struktur ekonomi daerah.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menegaskan bahwa fluktuasi tajam tersebut tidak semata disebabkan oleh berkurangnya proyek infrastruktur, tetapi juga mencerminkan lemahnya efisiensi dalam pola belanja daerah.

Menurut Noviardi, lonjakan pertumbuhan pada 2022 lebih banyak ditopang oleh ekspansi sektor konstruksi yang agresif.

Namun, ketika proyek besar seperti jalan tol dan stadion mulai berkurang, sektor tersebut justru mengalami kontraksi hingga minus 8,54 persen pada 2025, kemudian menyeret pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga  Meriahkan Hari Disabilitas Internasional IPC TPK Perkuat Pemberdayaan Tunanetra di Jambi

“Ini menunjukkan kita terlalu bergantung pada belanja infrastruktur. Ketika proyek melambat, ekonomi langsung kehilangan tenaga. Artinya, fondasi pertumbuhan kita belum kuat,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Noviardi menjelaskan, meskipun sektor perdagangan besar dan eceran masih tumbuh 8,85 persen, sektor informasi dan komunikasi 8,42 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,53 persen, kontribusi sektor-sektor tersebut belum cukup untuk menahan tekanan karena belum didukung oleh efisiensi sistem ekonomi yang memadai.

Struktur ekonomi Muaro Jambi yang masih didominasi sektor pertanian juga menjadi tantangan tersendiri. Dari total PDRB ADHB sebesar Rp35,88 triliun pada 2023, sekitar Rp16,31 triliun berasal dari sektor pertanian, yang dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah tinggi.

Baca Juga  Srikandi Bawaslu Jambi Tampilkan Tarian SAD, Layang Pakaseh Doa Ibu untuk Bumi

Dampak perlambatan ini juga mulai terasa pada aspek sosial. Tingkat pengangguran terbuka yang berada di kisaran 5,02 persen pada 2025 atau sebanyak 12.015 orang menunjukkan pasar kerja yang belum pulih sepenuhnya.

Di sisi lain, angka kemiskinan kembali naik menjadi 4,32 persen atau sekitar 21,05 ribu jiwa setelah sempat menurun pada tahun sebelumnya.

Noviardi menilai, persoalan efisiensi menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Ia menyoroti masih lambatnya penyerapan anggaran, pelaksanaan proyek yang tidak tepat waktu, serta tingginya biaya logistik dan distribusi yang membuat dampak belanja tidak optimal.

Baca Juga  Iffa Rosita Tak Ingin Ada PSU dan Penghitungan Suara Ulang di Jambi

“Inefisiensi ini menciptakan ekonomi biaya tinggi. Akibatnya, daya beli masyarakat tertekan dan pertumbuhan tidak berkualitas,” katanya.

Noviardi mendorong pemerintah daerah melakukan perbaikan mendasar dalam pola belanja dengan menekankan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.

Percepatan realisasi investasi, penguatan sektor perdagangan dan ekonomi digital, serta hilirisasi sektor pertanian dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur ekonomi.

“Ke depan, kita tidak bisa hanya mengandalkan belanja besar, tetapi harus memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar produktif dan berdampak. Jika efisiensi dibenahi dan investasi kembali bergerak, pertumbuhan ekonomi Muaro Jambi masih berpeluang kembali ke kisaran 5 persen pada 2026,” ujarnya. | DIA

Share :

Baca Juga

Nasional

Stabilitas Politik dan Keamanan Selama Libur Tahun Baru Islam Aman Terkendali

Ragam

Maulana Apresiasi Kegiatan Donor Darah, Kota Jambi Punya “Kampung Darah Bahagia”

Reportase

Bupati Muaro Jambi Dukung Pengembangan Budidaya Ikan Tawar

Reportase

Pupuk Kebersamaan dan Kekompakan, JMSI Jambi Gelar Buka Puasa Bersama Penasehat dan Pendiri

Reportase

Maulana dan Diza Sandang Gelar Pemangku Adat, Sri Purwaningsih Dianugerahi Gelar Datin : Tanda Cinta Masyarakat Kota Jambi

Reportase

Diza Turun ke Sejumlah Tempat Pembuangan Sampah

Reportase

Al Haris Tekankan Sinergi Pusat-Daerah Jadi Kunci Percepatan Ekonomi Jambi

Reportase

Ketimpangan Wilayah Tebo Masih Membelit Pembangunan